Selasa, 01 September 2015

Perjuangan Mengejar Beasiswa AAS

Sungguh saya menyesal bila mengingat masa-masa kuliah S1 saya yang penuh dengan ketidakseriusan. Saat itu saya tidak punya target apa-apa. Cukup bisa lulus dengan memuaskan. Sudah.
Saya sering berusaha mengingat dimana saya disaat dosen jebolan universitas LN menceritakan, memotivasi mahasiswanya untuk mempersiapkan diri meniti jalan yang sama...
Saya sering berfikir obrolan apa yang saya sempatkan disaat dosen bercerita tentang usaha yang dilakukannya agar bisa melanjutkan kuliah di luar negeri...
Saya sering berkhayal memiliki mesin waktu dan balik kembali dimasa dimana saya bisa melakukan lebih baik dari yang sudah saya lakukan saat itu....
Bayangkan....
Andai saja saya tau kalau melanjutkan  kuliah di luar negeri bisa didapatkan dengan beasiswa
Andai saya tau aktif di organisasi kampus bisa menjadi modal saya untuk bersaing mendapatkan beasiswa
Andai saya tau kalau mata kuliah penelitian itu sangat penting untuk mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan  yang lebih tinggi....
Andai saya tau semua itu, tentu saya tidak banyak santai, main, becanda, molor di kelas atau malah ikutan bolos kuliah berjamaah untuk sekedar nonton Armageddon di bioskop kelas menengah (at least di minimalisir laah.... sesekali asyik juga kok #jangan ditiru yaa)
Well, semua sudah terjadi, tidak perlu disesali yang penting ada kemauan untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan diri dengan serius untuk mengejar cita-cita...YIhaaa!
Pertama kali mendengar soal beasiswa ke luar negeri dari sahabat saya yang berhasil mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) di tahun 2006.
Saya jadi termotivasi untuk melalukan hal yang sama. Namun pada saat itu saya sadar banget kalau usaha saya sangat amat minim. Mengisi form aplikasi saja asal jadi dan tidak membaca semua persyaratan dengan baik. Saya yakin sekali kalau aplikasi saya langsung terbang ke tong sampah.
Saya memang kesulitan memahami betapa pentingnya bidang saya sehingga pantas untuk mendapatkan beasiswa. Saat itu saya masih menjadi guru Bahasa Inggris SD (ternyata memang ga penting ya? buktinya sekarang di kurtilas pelajaran Bahasa Inggris dihapuskan buat anak SD)
Benar saja, beberapa bulan kemudian datanglah Pak Pos mengantarkan surat penolakan. I am quit.
Cepat menyerah ya? Bener banget. Saya kemudian fokus ke urusan keluarga, saya punya anak, enjoy my motherhood time, terus punya anak lagi Sampai di tahun 2011 saya kembali terbangun dari tidur panjang untuk segera mewujudkan mimpi saya untuk bisa merasakan pendidikan di bagian bumi Allah yang lain. Alhamdulillah Suami saya selalu mendukung. Walau sudah diujung batas usia pendaftaran untuk Teacher Training ke Jepang, saya tetap coba. Dapat panggilan tes ke Jakarta, semua dibiayai sendiri, tidak mengapa....demi.
Saya kaget juga melihat peserta tes yang begitu banyak, masih muda-muda dan kelihatan smart. Waduhh.... dah keder duluan....
Seperti yang sudah saya prediksikan (walo masih tetap mengharap ada keajaiban) saya gagal di tahap ini. Vakum lagi.
Baru di tahun 2014 saya memulai lagi hunting beasiswa. Kali ini jauh lebih pede dalam mempersiapkan bahan-bahan persyaratannya, dan lebih fokus dalam pengisian form aplikasinya. Saya sekarang bukan lagi guru Bahasa Inggris SD. Saya pindah tugas menjadi Penilik PAUD. Bagi yang belum familiar dengan jenis pekerjaan ini, Penilik adalah semacam Pengawas sekolah, hanya saja kalau Pengawas itu untuk pendidikan formal (SD s/d SMU), sedangkan Penilik untuk pendidikan non formal seperti PAUD, Kesetaraan Keaksaraan, Kecakapan hidup dan kursus. Penilik dan Pengawas memiliki job description yang kurang lebih sama.
Saya mencoba apply beasiswa AAS (saya kepingiiiiiin banget bisa kuliah di Autraliyah). Saya siapkan semuanya semaksimal mungkin;
1. Saya belajar TOEFL lagi, karena serius, jadi guru Bahasa Inggris SD selama 8 tahun membuat kemampuan bahasa Inggris saya "jalan ditempat". Almost no improvement at all!  Gimana mau nambah....setiap saya berusaha menggunakan Bahasa Inggris di kelas lebih dari 50% saja, anak-anak pada protes..... gimana ya bikin mereka tertantang buat memahami bahasa tanpa harus ada acara translate2an segala? Bikin frustasi aja.
Saya tidak sanggup dari segi biaya untuk tes TOEFL IBT atau pun IELTS, sudahlah biaya tesnya mahal, tidak ada pun di Sumatera Barat, Harus ke Jakarta atau Batam dulu.... biaya lagi tho? So, TOEFL ITP aja deh. At the first trial saya baru bisa mencapai skor 533, lumayanlah..... untuk daftar AAS kan minimum 500.... jadi bisa dipakai....Alhamdulillah
2. Saya baca-baca blog para awardees AAS seperti blognya Bli Made Arsana (yang lagi hunting AAS pasti di guide kesini sama Om google). Banyak yang saya pelajari disana, termasuk cara dan tips pengisian form aplikasi (Orang ga pelit ilmu seperti beliau ini harus ditiru ya guys?!) Saya menghabiskan waktu lebih kurang 1 bulan untuk mengisis form aplikasi. Beberapa kali diedit, sayangnya waktu itu saya tak punya siapapun untuk membantu cek dan ricek.
3. Saya browsing universitas di Autralia yang menyediakan Postgraduate program di bidang Education Management yang ingin saya ambil. Saya mengirim email kepada mereka, saya print balasan dari mereka sebagai bukti kalau saya serius mencari informasi tentang perkuliahan disana
4. Saya menyisihkan uang belanja untuk menterjemahkan akta kelahiran dan KTP kepada sworn translator yang direkomendasikan di website resmi AAS (saya ingin menunjukkan kalau dari awal saya sudah mempersiapkan semua berkas yang diminta, walaupun untuk versi bahasa Inggris dari beberapa dokumen seperti iajazah, transkrip, akta kelahiran dan KTP baru dilengkapi bila sudah dinyatakan lulus). Oh ya, untuk ijazah dan transkrip sudah lebih dahulu saya buat versi bahasa Inggris nya di Universitas asal tempat saya memperoleh gelar S1.
5. Saya jilid rapi semua bahan wajib dan tambahan untuk kemudian saya kirimkan ke managemen AAS di Jakarta
6. Berdoa. Saya berdoa siang malam semoga berkas saya dilirik tim penyeleksi. Saya bahkan "menitip" doa kepada mertua yang kebetulan berangkat haji ditahun yang sama. In short, God must know I really want this.
Akan tetapi apa yang kita inginkan belum tentu langsung diiyakan oleh NYA. Di pertengahan Oktober 2014 saya iseng buka email lewat hp dan mendapatkan notifikasi kalau ada komen terbaru di blog nya Bli Made, saya baca, ternyata ada yang mengucapkan terimakasih karena dengan belajar dari blog beliau, orang tersebut dapat email panggilan wawancara AAS. So?! Email buat sayah
manah?
Tidak puas membuka email di Hp saya langsung nyalakan laptop (padahal waktu itu sudah lewat jam 12 malam, mata saya sebelumnya sudah mulai mengantuk, tapi langsung melek lagi)
Tidak ada email dari AAS buat saya. Sedang panik bgitu teman seperjuangan yang sama2 apply ke AAS kirim sms ke saya : Sudah dapat email dari AAS? Saya sudah dan saya gagal (itu kira2 yang ditulisnya di sms)
Saya tidak sabar menunggu besok untuk segera menelpon saja ke kantor AAS.
Besok pun tiba. Penuh harap saya telp kantor AAS di Jakarta. Mbak bersuara cukup ramah diseberang sana meminta saya untuk mengecek email di spam, barangkali nyasar disana. Saya lakukan, tapi nihil, Saya mulai berprasangka kalau mungkin saja kiriman dokumen saya tidak pernah sampai ke tim seleksi AAS.... bisa jadi kan? Bisa ga ya?
Penuh galau, akhirnya beberapa hari penantian saya pun berakhir suram. Saya ditolak. Kecewa? Pasti duong. Saya kabari suami, mertua dan Emak tercinta. Diluar dugaan suara Mak malah terdengar seperti lega. Lho? Ternyata selama ini beliau belum siap melepas saya pergi jauh menuntut ilmu ke negeri orang. Akhirnya ngaku juga. Oalah Maaaak.....
Saat saya menulis ini, saya sedang menantikan hasil seleksi berkas AAS untuk ronde 2015. Masih bulan depan. Berdoa saja...
Oh ya...saat ini saya juga sedang menunggu hasil interview beasiswa Fulbright. Iya, saya dipanggil wawancara untuk Fulbright. Untuk lebih detailnya akan saya entry khusus di cerita Fulbright  ya? :)
Keep fighting scholarship Hunters!

1 komentar:

  1. Halo mbak.. kenalkan aku kori. Mau tanya soal english version nya Akta sama KTP, itu diminta saat mengirim aplikasi atau khusus buat yang shortlisted aja ya?
    Sempet bingung soalnya baca2 blog isiny beda2 semua, ada yg bilang pas aplikasi harus sudah di translate, ada juga yang bilang nunggu diterima dulu.
    Terimakasih atas jawaban yang mbak berikan. Salam dari Malang.

    BalasHapus