Lebih kurang 12 tahun yang lalu saya berhasil menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Negeri Padang (UNP). Sudah selusin tahun, dan baru sekarang akan kembali kesana lagi untuk meminta tolong salah seorang dosen agar sudi menuliskan surat sakti yang bernama "Referensi" untuk saya. Untuk eks mahasiswi yang kurang aktif di organisasi seperti saya, ini bukan perkara yang mudah. Untuk sekedar mengingatkan Bapak/Ibu Dosen tercinta bagaimana performa saya selama kuliah pun harus lebih jeli, mengingat tenggat waktu yang sudah cukup lama....
Alhamdulillah bidang yang saya geluti sekarang masih ada benang merahnya dengan salah satu mata kuliah "pilihan" yang memang sengaja saya ambil saat itu. Tidak disangka, satu mata kuliah pilihan itu menjadi sangat berarti sekarang.
Sebelum menyambangi kampus, saya mencari informasi no contact Ibu dosen baik hati incaran saya. Saya menghubungi Bu Dosen untuk menanyakan kesediaannya memberikan saya referensi untuk mencoba mendaftar beasiswa AAS dan Fulbright. Sukur Alhamdulillah Si Ibu menyambut baik niat saya dan bersedia membantu.
Jarak kota kecil tempat saya bekerja sekarang dengan Kota Padang sebetulnya tidak terlalu jauh, kurang lebih 60km saja yang bisa ditempuh selama 1,5 jam dengan menggunakan angkutan umum. Berangkatlah saya pada hari itu walau sebetulnya tiba-tiba saja ada tugas kantor yang mendadak datang. Saya sampaikan keatasan akan saya usahakan (menyesal banget karena saya tau sekali kalau saya tidak bakal bisa melaksanakannya hari itu). Benar saja. Saat berada di atas bus yang membawa saya dan sahabat saya yang sudi menemani "ber-reuni" ke kampus kami, atasan saya menelpon.... Alamak..... Berusaha tenang saya menjawab panggilan masuk tersebut dan menjelaskan kalau saya sedang dalam perjalanan ke Padang karena sudah terlanjur membuat janji dengan Dosen (Saya jamin pasti atasan saya bingung, apa hubungan saya sama Dosen?). Biar sajalah. Besok saya berjanji akan menjelaskan apa yang terjadi.
Hujan cukup lebat mengguyur Kota Padang disaat kami sampai, untung sedia payung sebelum hujan. Tidak lama menunggu, Bu Susi, Dosen cantik yang masih tetap saja cantik setelah 12 tahun itu pun datang. Saya langsung pasang senyum dengan harapan Buk Susi bisa mengenali saya. Alhamdulillah beliau sepertinya ingat saya, atau paling tidak mulai mendapat gambaran dari apa yang sudah saya ceritakan via telepon. Buk Susi memberikan support kepada saya untuk tetap semangat mengejar beasiswa. Pertanyaan sempat dilayangkan kepada Uni Desi, sahabat yang menemani saya; "Desi gak coba mendaftar beasiswa juga?"
Saya tau betul jawaban yang akan diberikan Uni Desi "Ga dapat izin dari Suami, Buk"
Begitulah..... suami saya menunjukkan cintanya dengan memberikan kesempatan kepada saya untuk mengejar mimpi dan cita-cita, dan Suami sahabat saya juga punya caranya sendiri untuk menunjukkan betapa cintanya dia kepada istrinya " Tak sanggup ku jauh darimu walau hanya sekejap, sayang...."
Tetap semangat sahabatku, adikku.....
BalasHapusDiriku selalu ada untukmu beserta doa2 yg slalu ku panjatkan dalam setiap sujudku...
Keberhasilanmu merupakan kebahagian tersendiri bagi diriku, walaupun diriku tidak bisa sepertimu, setidaknya diriku akan merasakan imbass dari keberhasilanmu kelak....
Aamiin.....
Amiin... Thank you so much for being this very supportive best friend, Uni-Aunt Desi
BalasHapus