Kamis, 16 Juni 2016

My First and the only LOA from UK

It was busy and tough day. Rasa malas untuk menulis membuat saya mendelay cerita bahagia namun sedikit berliku dalam mendapatkan LOA (Letter of Acceptance) dari Univeristy of Kentucky awal April lalu. Sebelum mendapatkan "surat cinta " dari UK, saya harus melewati satu kali interview dengan salah seorang dosen dan staff administrasi dari universitas ini. Sebelumnya saya sudah menghubungi salah seorang profesor disana dan mendapatkan jadwal interview yakni tanggal 22 Maret. Tapi entah kenapa beberapa hari sebelum hari H saya belum juga mendapatkan notifikasi dari IIE melalui Aminef..... duh.... mereka lupa apa ya? namun akhirnya undangan interview masuk ke inbox saya langsung dari kampus. Saya hubungi Aminef untuk meminta restu, karena memang seharusnya seluruh proses pendaftaran ke seluruh kampus dalam submission plan menjadi gawenya IIE untuk diteruskan kepada saya melalui Aminef. Sukur Alhamdulillah Aminef langsung kasi respon cepat dan jadilah di hari yang sudah direncanakan saya dandan manis siap2 interview. Karena perbedaan waktu yang hampir 12 jam, ditengah malam buta saya harus rapi jali depan laptop menunggu interview melalui Skype. Saya pikir interview akan menggunakan video call....ehhh...ternyata enggak..... saya aja yang kegeeran jawab telephon skype mereka dengan mencet lambang video.... Alhasil saya bengong menatap layar kosong, sementara mereka bedua, para interviewer, bebas memandangi wajah ngantuk namun berusaha nampak penuh semangat. Lumayan jadi hiburan juga buat mereka....LOL
Alhamdulillah interview berjalan lancar dan akhirnya saya bisa mendapatkan LOA dari UK di minggu kedua April. Senang sekali....walau saya mesti menanggung shortfall atau kelebihan biaya sebesar $2.212. Angka yang cukup besar untuk orang seperti saya.
Sebetulnya saya masih bisa menunggu LOA dari ketiga univ lain, tapi karena ini pilihan pertama saya, shortfall segitu kabarnya masih bisa diakali, saya selak kepingin bernafas lega (dan juga ikut PDO di Jakarta bareng fulbrighter lain, nanti setelah ini bakal saya ceritakan serunya) jadilah saya "YES" kan lamaran dari UK tanpa menunggu kabar 3 univ lainnya. In short, this LOA is the only LOA I have. I don't know whether the other three accept or reject me.Gantian ya.....saya yang selama ini digantung melangkah pergi, heheheh (gantian jual mahal)
Untuk bilang "yes" ke UK tidak semudah yang dibayangkan. Saya mesti cari pinjaman untuk mengisi rekening tabungan yang mengenaskan (sekedar numpang lewat gaji aja). Alhamdulillah, teman-teman yang baik itu juga rezeki. Saya merasakannya. Nenen, teman sesama guru dulu mau bersusah payah mencarikan pinjaman untuk saya. Dana yang nangkring di rekening saya kurang dari 24 jam itu sungguh sangat membantu. Lega sekali rasanya. Sengaja saya tulis disini biar tidak pernah lupa... Makasih ya Nen, I hope someday I can pay you back.
 Untuk pembaca yang berniat mendaftar Fulbright, atau malah sedang memilih universitas di sana, please consider the tuition fee and the living cost. Sometimes the living cost is reasonable, but the tuition fee is damn expensive or it works the other way. Kalau bisa kuliah gratis tis..... kenapa harus bayar tho?
Namun itu kembali ke pribadi masing-masing.....termasuk tingkat ekonominya tentu. Universitas swasta biasanya lebih mahal....tapi juga berbanding lurus dengan kualitasnya. Tapi perlu diingat, kampus negeri di US juga pastimya masih lebih baik setidaknya dari segi fasilitas dibanding dengan kampus-kampus di Indonesia. Tidak bermaksud mengecilkan, namun kita memang sedang menuju kesana kan? ke pendidikan yang lebih berkualitas.
Menurut pendapat saya pribadi, dengan melihat kegalauan teman-teman yang memikirkan shortfall sampai belasan ribu dollar, ada baiknya sewaktu memilih universitas disana, siapkan paling tidak 1 pilihan kampus yang "terjangkau" dari semua sisi; ya biaya dan juga nilai syarat masuk yang diminta sesuai dengan yang kita punya. Jangan sampai diterima di seluruh kampus di submission plan, tapi gagal berangkat karena ga sanggup menutupi shortfallnya. Yang lebih parah lagi, tetap bisa berangkat (barangkali pinjam sana sini) tapi di tahun kedua terpaksa pulang kampung karena setelah kurang gizi karena ngirit buat nabung tapi tetap shortfall ga ketutup juga......sedih kan?
Finally, dengan mengucapkan basmallah saya resmi menyandang status FULBRIGHTER. Alhamdulillah....Puji dan syukur hanya kepadaNYA...

Senin, 08 Februari 2016

Kali ini, University of Kentucky

Setelah lelah melewati berbagai test yang bertubi-tubi, hal lain yang mesti dikhawatirkan adalah adalah proses aplikasi ke universitas di Amerika. Ini merupakan bagian paling crucial karena bila seorang candidate tidak mendapatkan selembar surat sakti yang berjudul Letter Of Acceptance maka status candidate nya harus gugur, walau Principal Candidate sekali pun. Kisah sedih ini dialami oleh sahabat saya yang tahun 2014 lalu menjadi principal candidate Fulbright untuk program Phd. Karena tidak mendapatkan satu LOA pun dari 5 universities yang didaftarkan....maka dengan amat menyesal AMINEF mengirimkan email, menyampaikan kabar sedih kalau statusnya sebagai principal candidate terpaksa dibatalkan dan bila ingin tetap mencoba maka harus mengulang dari awal lagi, dari tahap aplikasi berkas....hufff.....
Walau demikian saya yakin, Dia yang di atas sudah mempersiapkan skenario yang lebih baik untuk sahabat saya ini, seorang sahabat yang telah menyemangati saya untuk "berani" mencoba mendaftar Fulbright.
Back to my own story... Pertengahan Januari lalu akhirnya saya menerima email tentang submisson plan. Submission Plan adalah semacam rancangan yang berisi daftar universitas yang akan menjadi tujuan studi. Biasanya Submission Plan untuk program master berisi 4 universitas dimana 2 diantaranya adalah pilihan candidate dan 2 lagi adalah universitas yang disarankan IIE (Institute of International Education)  yang akan mengurusi proses aplikasi setiap candidate, dari A sampai Z.
Awalnya saya mendapat submission plan sebagai berikut:

 Karena dalam perjalanan menggali informasi tentang universitas di Amerika saya menemukan University of Kentucky dari salah seorang Fulbrighter tahun 2014, saya jatuh cinta pada universitas ini. Mas Beta Ardiansyah, fulbrighter yang sedang kuliah disana dengan begitu ramah dan terbuka mau berbagi cerita tentang lika likunya menempuh pendidikan master di UK dan tinggal di Kota Lexington. Saya bertekat akan meniru jejak Mas Beta (saya tetap panggil "mas" walau saya yakin banget usia saya pasti jauh lebih tua....penghargaan ala orang timur ya...) untuk mau membantu orang yang membutuhkan informasi tentang seluk beluk perjalanan Fulbright ini. Kadang saya sampai merasa segan sendiri dikarenakan fast respon dari beliau. Saya kadang sengaja menghubungi massanger nya di waktu2 yang menurut perkiraan saya yang bersangkutan sedang tidur (disini siang, disana malam kan?) tapi saya selalu seperti salah timing....langsung dibalas dalam hitungan menit sodara2.....
Dari beliau saya mendapat informasi bahwa score IBt dan GRE saya masih bisa dipertimbangkan di UK (kalau mas Beta sendiri scorenya mak nyus semua sih). Saya berharap semua akan lancar saja. UK memang menjadi pilihan pertama saya..
Jadi untuk finalisasi, my submission plan goes like this:
1. University of Kentucky
2. Florida International University ( ndak ada salju disini) :P
3. Missouri State University, and
4. University of North Texas

 Jauh di dalam hati saya sangat berharap untuk bisa diterima di UK, namun demikian saya yakin, bahwa yang sudah dipilihkan Allah adalah yang terbaik buat saya, Apa pun itu.
Sekarang waktunya untuk melanjutkan doa.......

Retest IBt dan GRE

Ini bener-bener late post. Tapi tidak mengapa, semoga bermanfaat bagi para pembaca :)
Saya seringkali berusaha mencari pengalaman "senior" penerima beasiswa Fulbright yang dengan senang hati mau mengumumkan kepada dunia score TOEFL IBt dan GRE serta test lainnya, terutama bila hasilnya tidak terlalu memuaskan (kalau memuaskan tentu lebih gampang buat cerita ya?)
Baiklah, biar saya yang mulai....
Dengan tidak merasa bangga sama sekali (bahkan sedikit malu) saya umumkan bahwa score TOEFL IBt saya 94 saja. Berikut barang buktinya:
Sengaja saya crop fotonya...karena percayalah...you do not want to see it! Bgitu mengenaskan bila saya diminta berfoto tanpa boleh senyum sedikitpun...plus memang under pressure .
Kalau menurut  saya pribadi, score itu nggak jelek-jelek amat, mengingat dan menimbang modal saya ngelamar Fulbright pas-pasan di angka 550 yang berarti sekitar 79-80 untuk versi TOEFL IBt nya.
Untuk GRE, saya udah berusaha ubeg2 filenya tapi ga ketemu (serius!....sebetulnya saya juga memang pengen melupakan...heheheh). Tapi don't worry, I ll let you know anyway. Sekali lagi tanpa rasa bangga sedikit pun saya umumkan bahwa score GRE saya hanyalah.....sangat amat hanyalah 139 untuk verbal reasoning, 145 untuk quantitative reasoning (ternyata MTK saya masih lebih lumayan) dan hanya 2,5 untuk analytical writing. Saya pasrah.... pasrah menunggu panggilan kedua untuk test GRE. Saya janji bakal usaha lebih baik....
Dan benar saja, seperti yang sudah saya baca dlm kisah perjalanan Fulbrighters sebelumnya, score kecil bin memalukan dikasi kesempatan buat re-take. Baiklah....
Saya mendapat kesempatan untuk test GRE lagi di Jakarta di bulan Desember 2015. Sisi Asyiknya adalah bertemu  dengan Fulbright Candidates dari daerah lain, tambah teman baru....Yayyyyyy!!!
Walaupun untuk tingkat master saya selalu menjadi candidate tertua, tak mengapa... justru buat balance yang muda-muda....heheheeh
Dikali kedua ini disamping ketemu pemain lama, bumil Hellen, dan Wirda (makasih mpek2nya), saya juga berkenalan dengan Makna Sinatria, candidate dari Solo yang jadi roomate saya (belakangan saya tau, ni anak disamping sangat-sangat muda, juga sangat-sangat pinter menggambar komik manga. Pinter pake banget. Saya juga ketemu Oyin, candidate dari Jawa Timur yang calon Phd (Hebat, Masternya dulu di Aussy, jebolan ADS, sekarang AAS namanya).
Bersama-sama kami mengulang tes GRE. Hasilnya nano-nano. Ada yang meningkat, ada juga yang malah menurun. Alhamdulillah saya termasuk yang mengalami peningkatan walau tidak banyak. Score verbal reasoning  dari 139 menjadi 144 dan quntitative reasoning dari 145 mejadi 148. Jadi 144 dan 148. Untuk Analytical writing sampai saat ini saya tidak tau....karena ga nanya juga ke AMINEF (untuk section writing memang tidak bisa langsung diketahui hasilnya di hari yang sama).
Masih tetap tidak memuaskan. Tapi sudahlah.... sekarang waktunya untuk lebih banyak berdoa....
Saya pikir score TOEFL IBt saya sudah lumayan dan tidak perlu mengulang, ternyata saya salah.... AMINEF dengan baik hati memberi kesempatan untuk meningkatkan nilai saya sekali lagi....cuma kali ini saya harus terbang ke Medan, bukan Jakarta seperti biasanya.....
It's the first time saya kesana.... antara excited and nervous.... 
Alhasil banyak pihak yang dibuat sibuk. Di hari Jumat tanggal 08 Januari 2016 saya terbang ke Medan. Yang jadi guide bgitu turun dari pesawat di Bandara Kulanamu adalah teman dari teman yang kebetulan tinggal di Kota Medan, kemudian ada Tasya yang menemani keliling Kota Medan. Tasya candidate Fulbright juga. Selama ini kami kenal lewat Facebook saja, copy darat lah ceritanya. Saya juga dibekali beberapa nomer telepon berbagai kerabat dari teman-teman sekantor yang menawarkan bantuan kalo-kalo saya kesasar dan butuh tumpangan...duh...jadi terharu tapi malu...baru ke Medan aja sudah bgitu banyak yang ikut sibuk....gimana kalau nanti ke Yu-Es yah?
Karena gagal fokus, di Medan saya lebih konsen ke acara wisata kuliner bareng Tasya ketimbang test itu sendiri, maka dengan sukses score saya mengalami kemerosotan yang meyakitkan. Khusus di reading section score saya anjlok ke angka 17....jadilah score akhir saya hanya 89. Untuuung saja AMINEF akan tetap menggunakan nilai yang lebih tinggi untuk mendaftarkan saya ke 4 universitas pilihan saya dan anjuran IIE ....
Saya tidak tau bagaimana kedua score pas-pas an ini akan membawa langkah saya kedepannya. Namun saya tulis ini, saya bagikan cerita ini bukan untuk ditiru (bila saya tetap berhasil mendapatkan Letter Of Acceptance dari Universities di Amerika), tapi lebih untuk menjadi tolak ukur standar minimum bagi Fulbright Candidates yang segera menyusul....
Namun bila saya gagal..... maka dilarang keras untuk mengikuti jejak saya! ;)
Baiklah pemirsah, saya tutup cerita hari  dengan memamerkan salah satu shot bersama Tasya
caption: Menikmati kerang rebus.... Thanks Sista...