Kamis, 16 Juni 2016

My First and the only LOA from UK

It was busy and tough day. Rasa malas untuk menulis membuat saya mendelay cerita bahagia namun sedikit berliku dalam mendapatkan LOA (Letter of Acceptance) dari Univeristy of Kentucky awal April lalu. Sebelum mendapatkan "surat cinta " dari UK, saya harus melewati satu kali interview dengan salah seorang dosen dan staff administrasi dari universitas ini. Sebelumnya saya sudah menghubungi salah seorang profesor disana dan mendapatkan jadwal interview yakni tanggal 22 Maret. Tapi entah kenapa beberapa hari sebelum hari H saya belum juga mendapatkan notifikasi dari IIE melalui Aminef..... duh.... mereka lupa apa ya? namun akhirnya undangan interview masuk ke inbox saya langsung dari kampus. Saya hubungi Aminef untuk meminta restu, karena memang seharusnya seluruh proses pendaftaran ke seluruh kampus dalam submission plan menjadi gawenya IIE untuk diteruskan kepada saya melalui Aminef. Sukur Alhamdulillah Aminef langsung kasi respon cepat dan jadilah di hari yang sudah direncanakan saya dandan manis siap2 interview. Karena perbedaan waktu yang hampir 12 jam, ditengah malam buta saya harus rapi jali depan laptop menunggu interview melalui Skype. Saya pikir interview akan menggunakan video call....ehhh...ternyata enggak..... saya aja yang kegeeran jawab telephon skype mereka dengan mencet lambang video.... Alhasil saya bengong menatap layar kosong, sementara mereka bedua, para interviewer, bebas memandangi wajah ngantuk namun berusaha nampak penuh semangat. Lumayan jadi hiburan juga buat mereka....LOL
Alhamdulillah interview berjalan lancar dan akhirnya saya bisa mendapatkan LOA dari UK di minggu kedua April. Senang sekali....walau saya mesti menanggung shortfall atau kelebihan biaya sebesar $2.212. Angka yang cukup besar untuk orang seperti saya.
Sebetulnya saya masih bisa menunggu LOA dari ketiga univ lain, tapi karena ini pilihan pertama saya, shortfall segitu kabarnya masih bisa diakali, saya selak kepingin bernafas lega (dan juga ikut PDO di Jakarta bareng fulbrighter lain, nanti setelah ini bakal saya ceritakan serunya) jadilah saya "YES" kan lamaran dari UK tanpa menunggu kabar 3 univ lainnya. In short, this LOA is the only LOA I have. I don't know whether the other three accept or reject me.Gantian ya.....saya yang selama ini digantung melangkah pergi, heheheh (gantian jual mahal)
Untuk bilang "yes" ke UK tidak semudah yang dibayangkan. Saya mesti cari pinjaman untuk mengisi rekening tabungan yang mengenaskan (sekedar numpang lewat gaji aja). Alhamdulillah, teman-teman yang baik itu juga rezeki. Saya merasakannya. Nenen, teman sesama guru dulu mau bersusah payah mencarikan pinjaman untuk saya. Dana yang nangkring di rekening saya kurang dari 24 jam itu sungguh sangat membantu. Lega sekali rasanya. Sengaja saya tulis disini biar tidak pernah lupa... Makasih ya Nen, I hope someday I can pay you back.
 Untuk pembaca yang berniat mendaftar Fulbright, atau malah sedang memilih universitas di sana, please consider the tuition fee and the living cost. Sometimes the living cost is reasonable, but the tuition fee is damn expensive or it works the other way. Kalau bisa kuliah gratis tis..... kenapa harus bayar tho?
Namun itu kembali ke pribadi masing-masing.....termasuk tingkat ekonominya tentu. Universitas swasta biasanya lebih mahal....tapi juga berbanding lurus dengan kualitasnya. Tapi perlu diingat, kampus negeri di US juga pastimya masih lebih baik setidaknya dari segi fasilitas dibanding dengan kampus-kampus di Indonesia. Tidak bermaksud mengecilkan, namun kita memang sedang menuju kesana kan? ke pendidikan yang lebih berkualitas.
Menurut pendapat saya pribadi, dengan melihat kegalauan teman-teman yang memikirkan shortfall sampai belasan ribu dollar, ada baiknya sewaktu memilih universitas disana, siapkan paling tidak 1 pilihan kampus yang "terjangkau" dari semua sisi; ya biaya dan juga nilai syarat masuk yang diminta sesuai dengan yang kita punya. Jangan sampai diterima di seluruh kampus di submission plan, tapi gagal berangkat karena ga sanggup menutupi shortfallnya. Yang lebih parah lagi, tetap bisa berangkat (barangkali pinjam sana sini) tapi di tahun kedua terpaksa pulang kampung karena setelah kurang gizi karena ngirit buat nabung tapi tetap shortfall ga ketutup juga......sedih kan?
Finally, dengan mengucapkan basmallah saya resmi menyandang status FULBRIGHTER. Alhamdulillah....Puji dan syukur hanya kepadaNYA...

Senin, 08 Februari 2016

Kali ini, University of Kentucky

Setelah lelah melewati berbagai test yang bertubi-tubi, hal lain yang mesti dikhawatirkan adalah adalah proses aplikasi ke universitas di Amerika. Ini merupakan bagian paling crucial karena bila seorang candidate tidak mendapatkan selembar surat sakti yang berjudul Letter Of Acceptance maka status candidate nya harus gugur, walau Principal Candidate sekali pun. Kisah sedih ini dialami oleh sahabat saya yang tahun 2014 lalu menjadi principal candidate Fulbright untuk program Phd. Karena tidak mendapatkan satu LOA pun dari 5 universities yang didaftarkan....maka dengan amat menyesal AMINEF mengirimkan email, menyampaikan kabar sedih kalau statusnya sebagai principal candidate terpaksa dibatalkan dan bila ingin tetap mencoba maka harus mengulang dari awal lagi, dari tahap aplikasi berkas....hufff.....
Walau demikian saya yakin, Dia yang di atas sudah mempersiapkan skenario yang lebih baik untuk sahabat saya ini, seorang sahabat yang telah menyemangati saya untuk "berani" mencoba mendaftar Fulbright.
Back to my own story... Pertengahan Januari lalu akhirnya saya menerima email tentang submisson plan. Submission Plan adalah semacam rancangan yang berisi daftar universitas yang akan menjadi tujuan studi. Biasanya Submission Plan untuk program master berisi 4 universitas dimana 2 diantaranya adalah pilihan candidate dan 2 lagi adalah universitas yang disarankan IIE (Institute of International Education)  yang akan mengurusi proses aplikasi setiap candidate, dari A sampai Z.
Awalnya saya mendapat submission plan sebagai berikut:

 Karena dalam perjalanan menggali informasi tentang universitas di Amerika saya menemukan University of Kentucky dari salah seorang Fulbrighter tahun 2014, saya jatuh cinta pada universitas ini. Mas Beta Ardiansyah, fulbrighter yang sedang kuliah disana dengan begitu ramah dan terbuka mau berbagi cerita tentang lika likunya menempuh pendidikan master di UK dan tinggal di Kota Lexington. Saya bertekat akan meniru jejak Mas Beta (saya tetap panggil "mas" walau saya yakin banget usia saya pasti jauh lebih tua....penghargaan ala orang timur ya...) untuk mau membantu orang yang membutuhkan informasi tentang seluk beluk perjalanan Fulbright ini. Kadang saya sampai merasa segan sendiri dikarenakan fast respon dari beliau. Saya kadang sengaja menghubungi massanger nya di waktu2 yang menurut perkiraan saya yang bersangkutan sedang tidur (disini siang, disana malam kan?) tapi saya selalu seperti salah timing....langsung dibalas dalam hitungan menit sodara2.....
Dari beliau saya mendapat informasi bahwa score IBt dan GRE saya masih bisa dipertimbangkan di UK (kalau mas Beta sendiri scorenya mak nyus semua sih). Saya berharap semua akan lancar saja. UK memang menjadi pilihan pertama saya..
Jadi untuk finalisasi, my submission plan goes like this:
1. University of Kentucky
2. Florida International University ( ndak ada salju disini) :P
3. Missouri State University, and
4. University of North Texas

 Jauh di dalam hati saya sangat berharap untuk bisa diterima di UK, namun demikian saya yakin, bahwa yang sudah dipilihkan Allah adalah yang terbaik buat saya, Apa pun itu.
Sekarang waktunya untuk melanjutkan doa.......

Retest IBt dan GRE

Ini bener-bener late post. Tapi tidak mengapa, semoga bermanfaat bagi para pembaca :)
Saya seringkali berusaha mencari pengalaman "senior" penerima beasiswa Fulbright yang dengan senang hati mau mengumumkan kepada dunia score TOEFL IBt dan GRE serta test lainnya, terutama bila hasilnya tidak terlalu memuaskan (kalau memuaskan tentu lebih gampang buat cerita ya?)
Baiklah, biar saya yang mulai....
Dengan tidak merasa bangga sama sekali (bahkan sedikit malu) saya umumkan bahwa score TOEFL IBt saya 94 saja. Berikut barang buktinya:
Sengaja saya crop fotonya...karena percayalah...you do not want to see it! Bgitu mengenaskan bila saya diminta berfoto tanpa boleh senyum sedikitpun...plus memang under pressure .
Kalau menurut  saya pribadi, score itu nggak jelek-jelek amat, mengingat dan menimbang modal saya ngelamar Fulbright pas-pasan di angka 550 yang berarti sekitar 79-80 untuk versi TOEFL IBt nya.
Untuk GRE, saya udah berusaha ubeg2 filenya tapi ga ketemu (serius!....sebetulnya saya juga memang pengen melupakan...heheheh). Tapi don't worry, I ll let you know anyway. Sekali lagi tanpa rasa bangga sedikit pun saya umumkan bahwa score GRE saya hanyalah.....sangat amat hanyalah 139 untuk verbal reasoning, 145 untuk quantitative reasoning (ternyata MTK saya masih lebih lumayan) dan hanya 2,5 untuk analytical writing. Saya pasrah.... pasrah menunggu panggilan kedua untuk test GRE. Saya janji bakal usaha lebih baik....
Dan benar saja, seperti yang sudah saya baca dlm kisah perjalanan Fulbrighters sebelumnya, score kecil bin memalukan dikasi kesempatan buat re-take. Baiklah....
Saya mendapat kesempatan untuk test GRE lagi di Jakarta di bulan Desember 2015. Sisi Asyiknya adalah bertemu  dengan Fulbright Candidates dari daerah lain, tambah teman baru....Yayyyyyy!!!
Walaupun untuk tingkat master saya selalu menjadi candidate tertua, tak mengapa... justru buat balance yang muda-muda....heheheeh
Dikali kedua ini disamping ketemu pemain lama, bumil Hellen, dan Wirda (makasih mpek2nya), saya juga berkenalan dengan Makna Sinatria, candidate dari Solo yang jadi roomate saya (belakangan saya tau, ni anak disamping sangat-sangat muda, juga sangat-sangat pinter menggambar komik manga. Pinter pake banget. Saya juga ketemu Oyin, candidate dari Jawa Timur yang calon Phd (Hebat, Masternya dulu di Aussy, jebolan ADS, sekarang AAS namanya).
Bersama-sama kami mengulang tes GRE. Hasilnya nano-nano. Ada yang meningkat, ada juga yang malah menurun. Alhamdulillah saya termasuk yang mengalami peningkatan walau tidak banyak. Score verbal reasoning  dari 139 menjadi 144 dan quntitative reasoning dari 145 mejadi 148. Jadi 144 dan 148. Untuk Analytical writing sampai saat ini saya tidak tau....karena ga nanya juga ke AMINEF (untuk section writing memang tidak bisa langsung diketahui hasilnya di hari yang sama).
Masih tetap tidak memuaskan. Tapi sudahlah.... sekarang waktunya untuk lebih banyak berdoa....
Saya pikir score TOEFL IBt saya sudah lumayan dan tidak perlu mengulang, ternyata saya salah.... AMINEF dengan baik hati memberi kesempatan untuk meningkatkan nilai saya sekali lagi....cuma kali ini saya harus terbang ke Medan, bukan Jakarta seperti biasanya.....
It's the first time saya kesana.... antara excited and nervous.... 
Alhasil banyak pihak yang dibuat sibuk. Di hari Jumat tanggal 08 Januari 2016 saya terbang ke Medan. Yang jadi guide bgitu turun dari pesawat di Bandara Kulanamu adalah teman dari teman yang kebetulan tinggal di Kota Medan, kemudian ada Tasya yang menemani keliling Kota Medan. Tasya candidate Fulbright juga. Selama ini kami kenal lewat Facebook saja, copy darat lah ceritanya. Saya juga dibekali beberapa nomer telepon berbagai kerabat dari teman-teman sekantor yang menawarkan bantuan kalo-kalo saya kesasar dan butuh tumpangan...duh...jadi terharu tapi malu...baru ke Medan aja sudah bgitu banyak yang ikut sibuk....gimana kalau nanti ke Yu-Es yah?
Karena gagal fokus, di Medan saya lebih konsen ke acara wisata kuliner bareng Tasya ketimbang test itu sendiri, maka dengan sukses score saya mengalami kemerosotan yang meyakitkan. Khusus di reading section score saya anjlok ke angka 17....jadilah score akhir saya hanya 89. Untuuung saja AMINEF akan tetap menggunakan nilai yang lebih tinggi untuk mendaftarkan saya ke 4 universitas pilihan saya dan anjuran IIE ....
Saya tidak tau bagaimana kedua score pas-pas an ini akan membawa langkah saya kedepannya. Namun saya tulis ini, saya bagikan cerita ini bukan untuk ditiru (bila saya tetap berhasil mendapatkan Letter Of Acceptance dari Universities di Amerika), tapi lebih untuk menjadi tolak ukur standar minimum bagi Fulbright Candidates yang segera menyusul....
Namun bila saya gagal..... maka dilarang keras untuk mengikuti jejak saya! ;)
Baiklah pemirsah, saya tutup cerita hari  dengan memamerkan salah satu shot bersama Tasya
caption: Menikmati kerang rebus.... Thanks Sista...

Minggu, 18 Oktober 2015

IBt TOEFL dan GRE

Kalau TOEFL mungkin bukan jenis test yang asing buat kebanyakan orang, namun GRE? Mungkin hanya sebagian kecil saja yang tau...
TOEFL (Test Of English as a Foreign Language) yang pernah saya ikuti ada 2 jenis; 1. ITP (paper based) dan yang ke-2  IBT ( saya bacanya " i be te... ii be te deeh... jangan ditiru ya) atau internet based TOEFL. Dari namanya saja sudah terbayang apa dan bagaimana kira-kira test ini berlangsung; kalau ITP masih paper and pencil, sedangkan IBT itu ujiannya di depan komputer. Dari materinya juga sedikit berbeda; bila di ITP sectionnya dibagi 3 yaitu listening, reading and grammar/structure (yang paling ga saya suka) sedangkan IBT dibagi menjadi 4 sections; Listening, Reading, Speaking (yang paling bikin nervous walo hanya ngomong sama komputer) dan Writing.
Pengalaman pertama saya mengikuti IBt TOEFL ya karena mengkuti proses seleksi beasiswa Fulbright ini. Sebagai candidate, baik principal maupun alternate sama-sama mendapat kesempatan untuk mengikuti tes ini. Biayanya ga murah, kalau sekarang mungkin sekitar 2,5jt an (kalau bukan karena Fulbright barangkali saya bakal mikir seribu kali buat ikutan, mengingat biayanya yang aduhai). Tempat yang melayani test ini juga tidak ada disetiap kota. Di ibukota Provinsi tempat saya berdomisili kebetulan juga tidak ada, jadi saya harus ke Jakarta (again, thanks God and thanks Fulbright for giving me this opportunity). Bukan hanya tiket, akomodasi dan biaya test gratis yang bikin hepi.... saya kok lebih exited with the idea that I will meet other candidates, new friends!
Setelah menerima hasil wawancara, saya dan 4 orang yang beruntung menjadi candidate menjalin persahabatan dan komunikasi via Blackberry Messenger. Sahabat baru saya ini berasal dari berbagai daerah yang kebetulan masih di Pulau Sumatera; Fannya dari Sumbar (sama ya Ani :), Vindi dari Bangka, Wirda dari Palembang dan Hellen dari Bengkulu (I swear, I miss you guys)
Kebetulan sekali jadwal test kami hampir berbarengan, walau Fannya dan Hellen lebih duluan untuk GRE nya, ga papalah... yang penting kita bisa ketemu in person in Jakarta. Oh ya, saat kami hendak test ini, sebagian Pulau Sumatera masih diselimuti kabut asap. Alhasil, Wirda yang sedianya bakal yang pertama mendarat di Jakarta, menjadi yang paling belakangan diantara kami bertiga karena pesawatnya delay. Selain karena takut nyasar, kami bertiga sengaja niat bareng menuju ke hotel yang jaraknya lumayan jauh dari bandara ( Hotel Alia Cikini Jakarta Pusat). Hitung-hitung menghemat ongkos taxi kaan?
Hari H pun tiba. It was Sunday October 11 2015. Kami menuju ke lokasi test di Jakarta Utara, tepatnya di Rukan Manyar Pantai Indah Kapuk (ini bukannya daerah kepala naga seperti yang dipromosikan Mbak Feni Rose di acara jual beli apartemen/rumah dan rukan di salah satu stasiun TV itu kan?) Semoga keberuntungan si kepala naga mengikuti kami (just kidding). Jarak yang lumayan jauh, buta lokasi, karena mendadak Rukan Manyar ini tidak terdeteksi sama mas Google Map, tidak membuat kami telat sampai di tempat. Berkat kesigapan Mbak Rini, salah satu candidate asal Jayapura (yang ternyata jauh lebih melek Kota Jakarta dibanding yang lain) telah berhasil mendapatkan mobil carteran yang lagi-lagi kami keroyok rame-rame. Tidak tanggung-tanggung, ada 8 orang dalam satu mobil. Tidak terbayang kayak sardennya, terlebih 5 orang diantara kami tergolong lumayan "Chubby"
Test IBt TOEFL yang dibagi 4 section berlangsung selama lebih kurang 4,5 jam....lama ya? Percayalah... itu tidak cukup lama! Kalau bisa minta tambahan waktu, pasti saya lakukan!
Seperti yang saya ceritakan di awal, speaking section lah yang bikin saya paling nervous. Ngomong di depan komputer, dimana peserta lain juga sedang asyik bicara, benar-benar mengganggu konsentrasi. Terlebih lagi saat mulai section ini saya sempat sangat buru- buru masuk ruangan di lantai 2. Perlu saya jelaskan, kalau sebelum speaking section itu ada jedah selama 10 menit (sebelumnya reading dan listening). Saya laper banget and at the same time  juga kebelet pipis. Waktu 10 menit ini sungguh tidak cukup untuk menuntaskan 2 kebutuhan ini. Salah saya juga, bawa roti untuk penghilang lapar, mungkin kalo jus buah atau susu coklat kotakan akan lebih praktis dan langsung srup, ga usah pake acara kunyah2 (perlu dicatat buat yang mau ikutan test). So, 10 menit berlalu tanpa terasa, roti habis tapi belum sempat pipis.... Mbak pengawas di lantai 2 sudah memanggil saya. Buru-buru naik lagi ke lantai 2, ngos-ngos an.... speaking section dimulai. Jleg.... pake acara blank dulu selama 2 detik.....(mana sambil nahan pipis)
Well.... sekarang saya sedang menunggu hasil test IBT TOEFL yang menurut si mbak di sana akan keluar dalam waktu 2 minggu. Deg-degan..... Semoga hasilnya memuaskan.... Amiiiiiin YRA.....
Next... GRE Test. Test jenis apa ini? Jangan ditanya, sampai sekarang itu masih menjadi mimpi buruk buat saya...hahahahha....
Tidak bermaksud menakut-nakuti..... Malah untuk warning agar test taker lebih hati-hati dalam mempersiapkan diri. Biar tidak menyesal seperti saya sekarang. Aseli! GRE itu SUSIT ( gabungan antara SUsah dan suLIT). As if I never learnt English before then they test me English! Sadis kan? GRE dibagi dalam 3 Sections, Analytical Writing, Verbal Reasoning and Quantitative Reasoning. Kata-kata yang muncul di section Verbal Reasoning benar-benar tingkat dewa. Ngapalinnya aja susahhh....hhhhhhhh...... Belum lagi Quantitative Reasoning-nya  (matematik Bow....). Setelah puluhan tahun ga begaul sama yang namanya matematika..... ampouuuun deeehhh....
Sekarang saya cuma bisa pasrah semoga nilai GRE saya yang memalukan untuk di share ini tidak menghalangi langkah saya untuk tahap seleksi selanjutnya, yaitu mendaftar ke universitas di Amerika. Kebetulan 3 dari 4 universitas yang hendak saya propose, tidak mensyaratkan GRE Score sebagai salah satu admission requirements  nya ( kalau saya sukses, mungkin bisa ditiru nih, buat mempertimbangkan masalah GRE sebagai salah satu poin dalam memilih universitas disana, hehehe )


Jumat, 16 Oktober 2015

BEING A PRINCIPAL CANDIDATE ; HOW DO I FEEL?

Extremely happy, of course! A looot happier than Mr. Alan who sent me this email:


Email itu datang di siang hari menjelang sore, disaat mata sedang menahan kantuk. Efeknya sungguh luar biasa! Kantuk hilang seketika berganti dengan euphoria....
Ingin sekali langsung buka blog dan menulis rasa bungah ini, tapi harus didelay karena harus melakukan persiapan untuk menghadapi rentetan test, membalas email, mengirimkan dokumen dalam softcopy dan revisi essay.
Berkali-kali sudah saya membuka blog seseorang dengan kutipan email seperti di atas. Saat membacanya saya ikut merasa senang. Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya mendapatkan hasil yang sudah sekian minggu diharap dan dinantikan. Tapi setelah mengalaminya sendiri ternyata rasanya : AWESOME!
Saya mengucapkan syukur berkali-kali. Perjuangan dan doa saya berbuah hasil. Saya selalu merasa bersyukur ketika sampai di setiap tahapnya. Saat email panggilan wawancara datang, saya juga bersyukur telah dipercaya sampai disana, telah dipilih dari sekian ribu orang yang mengirimkan aplikasi. Setiap langkah selalu saya syukuri.... Alhamdulillah.... puji syukur padaMu Ya Allah....
Namun saya sadar..... perjalanan masih panjang...

Selasa, 08 September 2015

Indonesia = Di Sini Ada Wisata Bencana

Semoga judul di atas tidak sepenuhnya benar. Saya berharap hanya di bagian Indonesia tempat saya tinggal saja fenomena "wisata bencana" itu ada. Setiap ada kejadian luar biasa, atau di luar dari yang biasa terjadi, seperti kemalingan, kecelakaan, apalagi kebakaran.... beramai-ramai massa mendekati TKP hanya sekedar untuk menemukan sendiri jawaban beberapa pertanyaan umum yang biasa muncul: Dimana? Siapa? Apa? Bagaimana?
Contohnya:
Dimana ada kemalingan? (Siapa tau itu rumah mantan saya, kan bisa nitip salam belasungkawa)
Siapa yang jadi korban? (Barangkali kenalan saya, sukur-sukur kalau niatnya buat bantuin... nah kalau justru nyukurin?)
Apa saja yang hilang? (Kadang kala nyawa lho yang hilang melayang, kalau sudah bgini biasanya berita yang akan dibawa akan lebih "wah")
Bagaimana kejadiannya? ( Pak Polisi saja baru mau akan mengadakan penyelidikan, namun biasanya orang disekitar ke jadian sudah berhasil membuat kesimpulan sendiri)
Begitulah yang terjadi siang ini...
Sedang asyik berkutat dengan proses registrasi E-PUPNS yang sulitnya minta ampyun (jaringannya super lola), tiba-tiba saja aliran listrik padam. Ga biasanya nih. Tak berapa lama beberapa rekan sekantor nampak keluar, barangkali karena tidak ada yang bisa dikerjakan di depan komputer yang tidak nyala. Selang semenit, beberapa orang tampak menyusul, salah seorang berhenti di depan pintu ruangan saya yang terbuka, mungkin dia melihat wajah heran saya dan enam teman satu ruangan, bertanya-tanya apa gerangan kok pada rame-rame keluar kantor padahal waktu istirahat masih kurang lebih 2 jam lagi. Dengan wajah cukup ceria dia menyapa kami: "Ikut Yuk?! Lihat kebakaran!"
Kami sempat melongo sebentar, speechless, lantas segera men-tidak-kan ajakan sopan itu.
Kami berhenti terheran-heran ketika rombongan PNS berseragam yang keluar kantor bertambah banyak. Saya berguman, andai saja setiap orang yang datang kelokasi kebakaran membawa air satuuuu ember saja... barangkali pekerjaan petugas pemadam kebakaran akan lebih ringan....
Semoga saja tidak ada motor yang masuk parit karena tersenggol mobil pemadam kebakaran yang kesusahan masuk gang seperti kejadian beberapa bulan yang lalu. Padatnya masyarakat yang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan aksi si jago merah kadang mengalahkan ketenaran Ayu Ting-ting, seandainya saja dia diundang konser ke kota kami. Kebanyakan dari mereka datang dengan mengendarai sepeda motor. Menciptakan lapangan parkir dadakan disekitar tempat kejadian perkara. Untung saja tidak ada orang yang iseng untuk memungut biaya parkir, apalagi menawarkan dagangan berupa makanan kecil atau minuman botol... kalau sampai ada...... lengkaplah sudah Wisata Bencana di negriku....hufff...
Dan begitulah..... ternyata  bencana kebakaran itu menimpa rumah salah seorang pegawai di instansi tempat saya bekerja, yang kebetulan tadi juga ikut rombongan penonton.
Apa saja yang habis dilahap si jago merah? Saya tidak tau persis, hanya kabarnya semua perabotan di lantai dua, tempat sumber api berada, ludes semua.
Bagaimana kejadiannya? Saya juga tidak tau, kabarnya (lagi) ada hubungan arus pendek. Pak Polisi masih sedang menyelidiki.
Ada korban jiwa kah? Sepertinya tidak ada ( Alhamdulillah pakai banget) hanya si Ibuk yang rumahnya terbakar sempat jatuh pingsan. Untunglah ada beberapa teman yang datang membantu memberi dukungan moril..... yang sabar ya Buk... Dia, sang pemilik segala, hanya mengambil kembali milikNya yang sudah dipinjamkan kepada kita.....

Jumat, 04 September 2015

Erikson Institute? Where is it? (Fulbright Interview Journey Part III)

Dengan membaca Basmallah, saya memasuki ruangan interview....
Sebelumnya Mbak Mitha sudah menjelaskan bahwa ada 6 orang di dalam, 3 orang asing, 2 orang alumni Fulbright dari Indonesia (yang wajahnya 1 seperti Chinese and 1 lagi seperti Japanese) dan 1 orang dari manajemen Aminef (bersama dengan Mbak Mitha, pria muda ini juga Indonesia banget)
7 orang.... yang saya sering baca di blog2 tentang wawancara beasiswa, interviewernya cuma 3 atau 4 orang saja, ini 5... untung Mbak Mitha and nice guy satu lagi tidak ikutan "ngeroyok"
Mbak Mitha bertindak sebagai moderator membuka sesi wawancara dengan meminta saya untuk memperkenalkan diri dengan singkat dan menjelaskan, jg dengan singkat, tentang study objective saya.
Karena waktu simulasi interview saya cuma menjelaskan tentang diri saya dan sedikit sekali study objective saya, Mbak Mitha meminta saya untuk menjelaskan dengan lebih rinci lagi (Duhh....)
Selanjutnya kurang lebih ada 7 pertanyaan
1. Mau ngapain sekembalinya dari Amerika? (pertanyaan ini berasal dari Indo-Chinese Cheerful Man). Kenapa Cheerful? Karena ketawanya paling keras kalo ada sesuatu yang lucu. Saya agak tersendat dalam menjawab pertanyaan ini, sempat kehilangan kosa kata yang pas (maklum pertanyaan pertama, masih pemanasan), sehingga Mr. Indo-Chinese (lupa nama beliau) memotong pembicaraan saya dengan mengatakan: After that retired? (kemudian ketawa keras)
2. Kenapa Amerika? Apa keuntungan belajar di Amerika? Jawaban saya standar saja, karena Amerika banyak memiliki universitas kelas dunia, Amerika memiliki semangat yang besar dalam memperbaiki Pendidikan Anak Usia Dini yang menjadi interest saya, Alumni universitas di Amerika memiliki networking yang kuat, terutama international students nya sekembali dari study mrk di Amerika. (semua angguk2 kecil)
3. Universitas apa saja yang akan menjadi pilihan bila berhasil mendapatkan Scholarship? 
Disini saya merasa sedikit bahagia, karena saya menyebutkan satu universitas yang ternyata tidak satu pun dari panelists yang tau kalau perguruan tinggi ini ada: Erikson Institute. Saya merasa memberikan informasi baru. dalam hati seperti bilang: "Naah....pada ga tau kaan?"
4. Pernah keluar negeri? Atau kemana perjalanan terjauh anda dari kampung halaman? Bagaimana anda melihat perbedaan yang ada?
Ini Pertanyaan dari Mr. Alan yang perawakannya seperti Mr. Simon yang jadi juri galak di x-factor America (but Mr. Alan is a lot friendlier). Untuk pertanyaan ini mungkin Panelist mau tau kesiapan saya mengarungi dunia yang luas. Sayang sekali saya cuma bisa jawab kalo perjalanan terjauh saya baru sampai Bali, mudah-mudahan tahun depan bisa ke amrik (ngarep dot kom). Walaupun baru sampai Bali, tapi saya melihat cara berfikir orang Bali lebih terbuka, cara berpakaian mereka beda, cara mereka menerima budaya yang masuk juga berbeda jauh dengan orang Sumatera Barat, akan tetapi saya memandang itu sebagai keanekaragaman, it is a common thing.  Mr. Alan mengangguk kecil.
5. Pernahkah dalam pekerjaan anda dihadapkan pada situasi dan kondisi yang sulit, but at the end you can over come it? Giliran satu-satunya perempuan berkebangsaan Amerika mengajukan pertanyaan untuk saya. Saya langsung teringat pengalaman diminta untuk menggantikan atasan saya menjadi pembicara di diklat pendidik anak usia dini di kota tempat tugas saya. waktu yang diberikan cuma 2 hari. Saya cuma diberi judul materi yang harus saya sampaikan, tanpa dibekali apa-apa lagi selain doa. Waktu itu cukup panik plus kezel juga kenapa dadakan. Untung kenal internet, akhirnya saya bisa menyelesaikan makalah singkat dan media presentasi berupa power point dalam waktu dua malam. In fact, the participants considered me as the most fun speaker, free of feeling bored and sleepy. I found many smiling faces. I was so relieved, satisfied and happy. Kembali saya mendapat anggukan dan senyuman yang maniiiis sekali dari perempuan Amerika yang serius memang cantik banget dengan rambut ala Demi Moore.
6. Bagaimana perhatian pemerintah Indonesia terhadap pendidikan anak usia dini? 
Ini pertanyaan dari Mr. Indo-Chinese (again). Untuk pertanyaan ini saya sungguh kurang puas dengan jawaban saya sendiri, karena tidak cukup memberikan supporting details. Huff.... banyak yang kelupaan....
7. Kenapa Anda tidak memilih negara lain seperti Jepang atau Finlandia yang lebih maju pendidikan anak usia dini nya? 
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan terakhir dari panelist yang saat itu diajukan oleh Miss. Indo-Japanesse. Saya pede menjawab bahwa Amerika memang tidak terlalu bagus rankingnya diurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Akan tetapi President Obama sudah mempersiapkan dana yang besar untuk bidang Early Childhood Education. I believe that there will be remarkable progress in this field such as low quality of ECE programs, Low participation rate of children enrolling ECE programs and.... low salary of the educators (everybody laughed at that time) will be solved soon. and those problems are problems that Indonesian have, i am sure many things Indonesia can learn from America.
Terakhir Mr. Indo-Chinese menanyakan tentang sudah kah ketemu informasi tentang Erikson Institute? Langsung dijawab oleh Pria America yang sejak awal belum pernah mengajukan pertanyaan untuk saya. "Yes, I got it!" Sambil sesekali melihat laptop yang berada di depannya, Bapak Londo ini memberikan informasi kepada panelists lain bahwa perguruan tinggi pilihan saya memang khusus membidangi Childhood development. You really got the right hit!  kata beliau kepada saya. I take it as a compliment, Sir (dalam hati saja tentunya)
Mr. Alan yang memberikan closing statement  buat saya. Dari yang bisa saya pahami, beliau mengatakan bahwa alasan saya untuk belajar di Amerika cukup jelas, saya bahkan juga membahas tentang network alumni Fulbright yang memang terjalin kuat. Pilihan universitas saya bagus dan sesuai tapi menurut beliau saya juga harus siap-siap kalau seandainya terpilih harus menyediakan sendiri  biaya tambahan yang mungkin akan ada (I understand it as shortfall) karena pilihan pertama saya, Erikson Institute, adalah lembaga pendidikan swasta yang terkenal dengan biaya kuliahnya yang relatif tinggi. Saya mengangguk mengiyakan apa yang disampaikan Mr. Alan.
Kembali ke moderator, Mbak Mitha mengingatkan sambil menunggu keputusan panelist, tidak ada salahnya untuk mempersiapkan diri dan berkenalan dengan TOEFL IBT and.... (ada pause disini) saya langsung menyambung GRE :)
Mr. Alan kembali harus komen "Ah! You know that! Be ready with the math part" Kata beliau sambil tersenyum kecil.
Alhamdulillah... that's all what going on in 30 minutes in the room. Saya cukup puas dan senang. 
Seandainya dalam beberapa hari kedepan saya mendapat kabar baik, berarti pemirsa yang kebetulan sedang mencari beasiswa seperti saya, dan atau sudah mendapatkan panggilan interview, maka usahakanlah ada senyuman dan anggukan dari interviewers nya saat proses wawancara berlangsung. Namuuuun.... bila saya ternyata tidak diterima... (Please Dear God, jangan sampai ini keputusannya) berarti semua hal yang kita anggap positif, tidak menjamin kita bakal diterima. Barangkali ada beberapa hal yang dilihat oleh panelist dari diri saya yang masih jauh dari harapan. 
Akan tetapi yang paling penting dari itu semua adalah: APAPUN HASILNYA, YAKINI ITU SEBAGAI KEPUTUSAN DARI ALLAH YANG PASTI TERBAIK UNTUK SAYA..... 

Saya keluar dari Intiland Tower dengan penuh senyum. Mbak security yang berwajah kaku tetap terlihat manis dan ramah di mata saya saat menjelaskan dimana letak mushala (Padahal waktu saya masuk tadi, si mbak security kliatan lebih galak). Selesai shalat asyar saya berganti kostum rok saya dengan celana panjang karena rencana saya akan naik ojek menuju bandara mengikuti saran dari Mbak Mitha yang memikirkan kemungkinan macet kalo saya memilih naik taxi. Oh ya, kebetulan saya adalah kandidat terakhir yang diinterview pada hari itu, jadi dah yang paling sore.
Berbekal informasi dari Mbak Mitha tentang "reasonable price" of ojek to the airport, saya melakukan penawaran sama si Mas Ojek. dari 200rb yang ditawarkan, kami deal di angka 125 (sebelumnya si mas minta 150). 
Seperti yang saya ceritakan di awal, si mas ojek gesit banget menghindari macet, lumayan ngebut tapi cukup perhitungan. Saya sampai di bandara tanpa perlu buru-buru untuk segera check in. Saya berterimakasih sekali dan akhirnya tetap memberikan ongkos ojek Rp150rb seperti yang beliau minta. Kita sama-sama happy. Win-win.