Sedang galau menunggu hasil interview Fulbright tanggal 19 Agustus 2015 yang lalu.
Baiklah.... Mending menulis sedikit, flash back ke hari dimana saya mendapatkan kabar baik dari Aminef. Bertepatan dengan hari ulang tahun saya, email yang diharapkan itu pun datang. Sungguh hadiah ulang tahun terbaik yang pernah saya dapatkan.
Saking senang+nervous saya berulang kali membaca email yang ditujukan kepada 3 orang beruntung yang ditanyakan kesediaannya untuk diwawancara. Of Course!! Absolutely! Certainly laah...
Saya meminta suami untuk ikut membaca email dari Aminef tersebut (cuz khawatir saya salah baca). Alhamdulillaah.... ternyata saya tidak sedang berhalusinasi, hhehe
Tanpa menunggu lagi saya langsung kabari orang tua dan mertua yang juga ikut bahagia. Tidak lupa Saya mengirim BBM kepada Bung Budi Waluyo yang sudah berbaik hati berbagi tips sukses Fulbright melalui blog nya, plus bantuan langsung dengan memberi masukan Study Objective saya. Waktu itu Bung Budi membalas pesan saya dengan kata pembuka : Selamat..... tapi jangan senang dulu.... (hmmm.... saya yakin maksudnya bukan buat mengurangi kebahagiaan saya, tapi lebih kepada menyemangati untuk bersiap, YUP!)
Semenjak itu saya jadi lebih rajin browsing internet tentang tips-tips wawancara beasiswa. Saya juga menghubungi sahabat dari SMP yang memiliki kualifikasi sebagai seorang interviewer. Bersamanyalah saya melakukan simulasi interview walau hanya melalui telephon. Percayalah saudara-saudara..... saya sudah sangat nervous di tahap simulasi ini (karena saya tau sahabat saya ini walau baik dan cerdas, tapi juga terkenal galak...). Pun interview kali ini adalah yang pertama di hidup saya. Lengkaplah sudah....
Saya melakukan langkah-langkah berikut untuk mempersiapkan diri menghadapi tes interview Fulbright:
1. Saya membaca tips-tips interview beasiswa di beberapa blog yang saya temukan.
2. Saya berkonsultasi dengan sahabat yang memiliki pengalaman interview Fulbright. Dari persepsinya, saya mendapat gambaran bahwa proses interview Fulbright itu tidak terlalu menakutkan. Waktu itu dia ditanya sedikit tentang study Objective dan research proposalnya (sahabat saya akan melanjutkan pendidikan S3) dan kemudian beralih ke pertanyaan tempat wisata yang ada di daerah asalnya; berapa lama jarak tempuhnya, berapa biayanya, dst..... Santai banget ya? Dan dia diterima!!
Well..... barangkali apa yang sudah ditulis sahabat saya ini di SO dan RP nya sudah cukup jelas, jadi ga perlu keterangan tambahan, sedangkan untuk saya bisa saja lain ceritanya... (ternyata benar)
3. Saya menuliskan beberapa pertanyaan yang saya "curigai" bakal ditanyakan panelists nanti, menuliskan jawaban saya, dan berusaha menghafalnya ( it didn't work, saya sadar, saya bukan tipe penghafal). Saya ganti metodenya, daftar pertanyaan yang saya tulis di kertas karton kecil menyerupai flashcard itu hanya saya jadikan poin ide saja, bukan uraian yang harus dihafal.
4. Menemukan sahabat, saudara dan sekaligus teman kerja yang sudi membantu saya untuk menyelesaikan tugas kantor yang sedang menumpuk. Believe me..... untuk point ini tidak semua orang seberuntung saya. And if you want to find someone like that, You cannot find her/him in instant ;) ( Thank you Sister Desi)
5. Saya melakukan simulasi dan refleksi tentang hasil interview pura-pura yang bikin nerve lumayan kaku. (Salut padamu sahabat, yang memilih menjadi ibu rumah tangga dan mau merelakan segala potensi yang ada tercurah tuk keluarga..... Thanks Sister Tika)
6. Berdoa siang dan malam. Ini penting banget untuk meredakan kegalauan. Semua yang terjadi atas kehendak-Nya, dan hanya kepada-Nya lah hendaknya kita meminta dan berpasrah.
7. Di hari H saya tidak membaca apa-apa lagi.... saya malah sempatkan jalan-jalan ke Monas pagi hari sebelum wawancara.... Sesekali ke Jakarta gini.... Hihihii
Tidak ada komentar:
Posting Komentar