Senin, 31 Agustus 2015

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini ( Pengalaman Pribadi )

Tidak diragukan lagi bahwa pendidikan anak usia dini adalah bagian terpenting dari pembentukan pondasi yang kuat bagi kemampuan seseorang untuk survive and success dalam pendidikan dan dalam kehidupannya sebagai individu, warga negara dan sebagai insan manusia. Beberapa dekade yang lalu, pendidikan anak usia dini belum mendapatkan perhatian yang besar. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh masih minimnya pengetahuan manusia tentang periode emas kehidupan seorang anak yang membutuhkan stimulasi dan rangsangan agar dapat berkembang secara maksimal.
Kira-kira 30an tahun yang lalu, saya beruntung menjadi salah satu anak dari jutaan anak Indonesia yang sempat mengecap pendidikan anak usia dini, walau baru dimulai saat usia 6 tahun. Belum ada Kelompok bermain atau pun TPA saat itu. Beberapa anak yang beruntung memiliki orang tua yang mementingkan pendidikan bisa menikmati layanan pendidikan Taman Kanak-kanak (TK). Saya dan 2 orang adik saya menghabiskan 1 tahun saja di Taman Kanak-kanak. Cukuplah untuk ukuran saat itu. Banyak anak-anak lain teman sepermainan yang langsung menyerbu Sekolah Dasar begitu menginjak usia 7 tahun, termasuk adik bungsu saya.
Sebetulnya ide awal saya bisa mampir di TK hanya kebetulan saja. Saya sudah selak kepingin sekolah saat usia 5 tahun akan tetapi Mak dan Bapak membujuk saya untuk menunggu 1 tahun lagi. Okelah. Tahun ajaran baru pun akhirnya datang juga. Saya yang kebetulan berulang tahun di bulan Juli sudah langsung menagih janji; Daftar sekolah yuk, Mak?. Berangkatlah saya ditemani Emak buat mendaftar sekolah di SD dekat rumah saja. Sayang disayang saya tidak diterima. Disamping usia yang memang baru genap 6 tahun, badan saya pun tergolong mungil dibanding anak seusia saya yang secara ajaib bisa diterima sekolah di SD walau belum berusia 7 tahun (body mereka memang jauh lebih "normal" dibanding saya). Alhasil karena tidak tega menyaksikan kekecewaan saya yang terancam batal sekolah, Mak dan Bapak akhirnya mencapai kata mufakat untuk mendaftarkan saya ke TK saja, saya jg tidak menolak, walau dalam hati kurang sreg.
Menjadi anak TK ternyata asyik. Saya tidak ingat detailnya, tapi saat sudah di SMU saya berjumpa lagi dengan beberapa orang teman TK, mereka langsung mengenali sambil bilang: Ini Ndaru yang pinter menggambar waktu TK itu kaan? Olalaaa..... saya baru ingat kalau setiap selesai sesi menggambar (there were a looot of drawing at that time) hasil karya saya selalu dipajang oleh Buk Guru :)
Menginjak usia 7 tahun saya pun berhasil masuk SD dengan sedikit pandangan curiga dari para guru dan kepala sekolah : "Apa anak ini beneran sudah 7 tahun? Masih kayak balita..."
Yup! Waktu kecil saya memang mungil sekali. Berat badan saya setiap ditimbang di awal tahun ajaran selalu menempati peringkat terbawah dan sukses menjadi tontonan teman satu kelas (Serius.... semua anak pingin melihat sendiri hasil timbangan berat badan saya). Ditambah lagi dengan komen manis wali kelas saya yang selalu membandingkan Bb saya sama ank bungsunya yang terpaut 4 tahun usianya dengan saya......
Tapi jangan salah.... pepatah kecil-kecil cabe rawit benar-benar melekat ke diri saya; walau badan paling kecil, timbangan selalu yang terbawah, tapi nilai-nilai saya selalu yang teratas.
Saya yakin, kesiapan saya menghadapi setiap tingkatan kelas dari SD sampai kuliah pun pasti sedikit banyak adalah hasil dari pendidikan Taman Kanak-kanak yang pernah saya rasakan. 1 tahun di TK saja efeknya sebegitu dasyat, apalagi sekarang yang anak-anak sudah mulai dikirim ke lembaga PAUD sejak masih bayi? Harus lebih hebat duong ;)
Bukti lain dari pentingnya pendidikan anak usia dini dalam kehidupan pribadi saya pun dapat dilihat dari kehidupan kami 4 bersaudara saat ini. Saya dan dua adik saya yang menikmati TK, sekarang memiliki pekerjaan yang Alhamdulillah cukup layak. Saya PNS Penilik PAUD, Adik saya, anak no 2, bekerja sebagai guru PNS di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Darmasraya. Anak ketiga Mak dan Bapak juga PNS di KPU Kota Pariaman, kami bertiga Alhamdulillah menyelesaikan pendidikan S1 kami dan sedang berupaya untuk bisa lanjut ke S2..... dan adik bungsu kami yang tidak merasakan nikmatnya pendidikan anak usia dini harus puas dengan menyandang gelar tamatan SMU setelah berjuang lebih kurang 7 tahun untuk menyelesaikan pendidikan D3 nya namun sayangnya tetap gagal juga....
Kebetulan kah? I don't know.... maybe....

I guess it's time to write my own story....

Mimpi bisa kuliah saja sudah merupakan suatu hal yang "Wah" menurut ukuran anak pantai seperti saya. Lamat-lamat masih teringat obrolan singkat saya bersama Emak. waktu itu rasanya saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kelas 2 apa 3 gitu deh. Saya bilang ke Emak: "Mak, besok udah besar aku kuliah ya?" Waktu itu belum ngerti kuliah itu apa, cuma kayaknya keren aja liat om dan tante yg kos disekitaran rumah yang saban hari berpakaian rapi dan ganti2 (ga pake seragam macam anak Es-DE). Oh ya, waktu itu nyapa mahasiswa or mahasiswi yang lewat depan rumah dengan panggilan "om" atau "tante"... (ampun dehhh.... pas udah ngalamin sendiri dipanggil tante padahal masih meling2 muda belia waktu udah kuliah, bete banget...hihihi). Tau apa jawaban Emak dengar pertanyaan+pernyataan anak lugu usia 8 or 9 tahun yg kepengen kuliah? Emak jawabnya gak kalah polosnya : "Kita lihat besok ya, Nak? Biaya kuliah itu mahal banget. Banyak berdoa aja ya?"
Aseli.... saya ingat banget waktu itu saya melongo, sedikit kecewa, kenapa tidak ada kalimat-kalimat penuh semangat keluar dari Emakku tercinta. Setelah besar saya baru sadar, Emak cuma bersikap realistik. Waktu itu yang bisa kuliah hanya anak orang yang berasal dari kalangan menengah keatas, yang orang tuanya pegawai, atau yang punya deposito atau punya tanah yang bisa dijual buat biaya kuliah, dan kami termasuk kalangan menengah yg rada tergelincir ke bawah, hehehe....
Di kelas 5 SD saya ingat pernah nyolong kapur tulis beberapa cuil untuk saya bawa pulang. Di pintu masuk rumah saya tulis nama saya sepeti ini : Prof.Dr.H. Ndaru Prapti, SH. Saya kotakin pake kapur dengan warna lain ( belakangan saya ganti H dengan Hj, karena kata Bapak H itu buat laki2 dan Hj baru buat perempuan). Saya terinspirasi melihat pintu rumah Bapak-bapak dosen tetangga beberapa gang dari rumah saya yang punya plang nama cantik berwarna putih, hitam atau keemasan yang tertempel di pintu masuk rumah mereka. Keren banget. Siapa pun bakal tau pemilik rumah bagus ini namanya jadi panjang karena singkatan-singkatan yang banyak. Pengen kayak itu juga.
Mimpi pingin kuliah mulai mengabur, lebih tepatnya mulai tau menempatkan diri, saat masuk ke jenjang pendidikan menengah. Saya mengalami "Culture Shock" ala lokal, hehehe
Saya kaget melihat pergaulan anak SMP yang mulai macam-macam. Kalau dulu waktu SD teman kita ya hanya sekitaran rumah (yang status sosial-ekonominya rata-rata sama aja), sekarang lebih beraneka ragam. Saya bahkan bertemu dan berbaur dengan anak-anak yang ternyata bertempat tinggal di rumah yang pintu-pintunya sudah menginspirasi saya dengan gelar yang panjang.... Anak Bapak/Ibu Dosen....kerennyaaaa.......
Saya minder karena beberapa hal:
1. Mereka kliatan banget berasal dari kaum berada, bersih, wangi, alat sekolahnya lengkap....mana jajannya Es Cup Cup (sewaktu saya harus cukup puas dengan es bungkusan)....duuhhhh....
2. Walau saya sewaktu SD selalu juara kelas, tetapi menghadapi anak-anak juara kelas dari SD favorit dengan tambahan les ini itu.... saya ketinggalan juga... 
3. Saya anak pantai yang terkenal dengan keprimitipannya in the area of,....sorry, you don't want to know about this, but I ll let you know anyway... Kami nggak punya toilet. garis pantai yang membentang dan deburan ombak yang bergemuruh sudah cukup menjadi saksi bisu petualangan harian kami anak-anak pantai yang kalau punya cukup malu seperti saya, maka akan selalu merindukan datangnya malam..... (story ends. No more question!)
Dan sudah jelas tentunya bahwa hal ini menjadi bahan bisik-bisik tetangga. Saya berusaha cuek aja, seakan tak peduli.... toh tidak ada teman yang secara frontal berani menanyakan kepada saya: "Eh, kamu pup nya dimana?"
4. Bagian tersedih adalah ketika harus mengisi any form tentang biodata pendidikan orang tua, saya harus cukup berterima kasih bisa menuliskan SSRI ( Sekolah Seni Rupa Indonesia) untuk Bapak dan SMP untuk Emak. Kenapa saya berterimakasih? Karena saya akhirnya tau, kalau itu cuma kreativitas bercampur dengan khayalan Bapak dan Emak saja sewaktu pertama kali mengisi formulir pendaftaran masuk SD buat saya. Sebetulnya mereka berdua (Alhamdulillah) tamatan Sekolah Dasar....
Dalam hati, sebetulnya bertambah keras keinginan untuk bisa kuliah, sekarang motivasi jadi bertambah, selain biar kliatan keren, juga biar kelak anak-anak saya ga malu2 amat menuliskan tingkat pendidikan Mamanya (sumpah, waktu itu saya bertekat ga mau dipanggil Emak! Ndeso). Hehehe..... baru nyadar, ternyata di usia 12 an saya sudah memikirkan untuk punya anak...hahahahaha...
In Short, sejak masih imut-imut semangat sekolah saya sudah cukup tinggi, walau setingan motivasi masih acakadut, ya ora popo....