Selasa, 08 September 2015

Indonesia = Di Sini Ada Wisata Bencana

Semoga judul di atas tidak sepenuhnya benar. Saya berharap hanya di bagian Indonesia tempat saya tinggal saja fenomena "wisata bencana" itu ada. Setiap ada kejadian luar biasa, atau di luar dari yang biasa terjadi, seperti kemalingan, kecelakaan, apalagi kebakaran.... beramai-ramai massa mendekati TKP hanya sekedar untuk menemukan sendiri jawaban beberapa pertanyaan umum yang biasa muncul: Dimana? Siapa? Apa? Bagaimana?
Contohnya:
Dimana ada kemalingan? (Siapa tau itu rumah mantan saya, kan bisa nitip salam belasungkawa)
Siapa yang jadi korban? (Barangkali kenalan saya, sukur-sukur kalau niatnya buat bantuin... nah kalau justru nyukurin?)
Apa saja yang hilang? (Kadang kala nyawa lho yang hilang melayang, kalau sudah bgini biasanya berita yang akan dibawa akan lebih "wah")
Bagaimana kejadiannya? ( Pak Polisi saja baru mau akan mengadakan penyelidikan, namun biasanya orang disekitar ke jadian sudah berhasil membuat kesimpulan sendiri)
Begitulah yang terjadi siang ini...
Sedang asyik berkutat dengan proses registrasi E-PUPNS yang sulitnya minta ampyun (jaringannya super lola), tiba-tiba saja aliran listrik padam. Ga biasanya nih. Tak berapa lama beberapa rekan sekantor nampak keluar, barangkali karena tidak ada yang bisa dikerjakan di depan komputer yang tidak nyala. Selang semenit, beberapa orang tampak menyusul, salah seorang berhenti di depan pintu ruangan saya yang terbuka, mungkin dia melihat wajah heran saya dan enam teman satu ruangan, bertanya-tanya apa gerangan kok pada rame-rame keluar kantor padahal waktu istirahat masih kurang lebih 2 jam lagi. Dengan wajah cukup ceria dia menyapa kami: "Ikut Yuk?! Lihat kebakaran!"
Kami sempat melongo sebentar, speechless, lantas segera men-tidak-kan ajakan sopan itu.
Kami berhenti terheran-heran ketika rombongan PNS berseragam yang keluar kantor bertambah banyak. Saya berguman, andai saja setiap orang yang datang kelokasi kebakaran membawa air satuuuu ember saja... barangkali pekerjaan petugas pemadam kebakaran akan lebih ringan....
Semoga saja tidak ada motor yang masuk parit karena tersenggol mobil pemadam kebakaran yang kesusahan masuk gang seperti kejadian beberapa bulan yang lalu. Padatnya masyarakat yang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan aksi si jago merah kadang mengalahkan ketenaran Ayu Ting-ting, seandainya saja dia diundang konser ke kota kami. Kebanyakan dari mereka datang dengan mengendarai sepeda motor. Menciptakan lapangan parkir dadakan disekitar tempat kejadian perkara. Untung saja tidak ada orang yang iseng untuk memungut biaya parkir, apalagi menawarkan dagangan berupa makanan kecil atau minuman botol... kalau sampai ada...... lengkaplah sudah Wisata Bencana di negriku....hufff...
Dan begitulah..... ternyata  bencana kebakaran itu menimpa rumah salah seorang pegawai di instansi tempat saya bekerja, yang kebetulan tadi juga ikut rombongan penonton.
Apa saja yang habis dilahap si jago merah? Saya tidak tau persis, hanya kabarnya semua perabotan di lantai dua, tempat sumber api berada, ludes semua.
Bagaimana kejadiannya? Saya juga tidak tau, kabarnya (lagi) ada hubungan arus pendek. Pak Polisi masih sedang menyelidiki.
Ada korban jiwa kah? Sepertinya tidak ada ( Alhamdulillah pakai banget) hanya si Ibuk yang rumahnya terbakar sempat jatuh pingsan. Untunglah ada beberapa teman yang datang membantu memberi dukungan moril..... yang sabar ya Buk... Dia, sang pemilik segala, hanya mengambil kembali milikNya yang sudah dipinjamkan kepada kita.....

Jumat, 04 September 2015

Erikson Institute? Where is it? (Fulbright Interview Journey Part III)

Dengan membaca Basmallah, saya memasuki ruangan interview....
Sebelumnya Mbak Mitha sudah menjelaskan bahwa ada 6 orang di dalam, 3 orang asing, 2 orang alumni Fulbright dari Indonesia (yang wajahnya 1 seperti Chinese and 1 lagi seperti Japanese) dan 1 orang dari manajemen Aminef (bersama dengan Mbak Mitha, pria muda ini juga Indonesia banget)
7 orang.... yang saya sering baca di blog2 tentang wawancara beasiswa, interviewernya cuma 3 atau 4 orang saja, ini 5... untung Mbak Mitha and nice guy satu lagi tidak ikutan "ngeroyok"
Mbak Mitha bertindak sebagai moderator membuka sesi wawancara dengan meminta saya untuk memperkenalkan diri dengan singkat dan menjelaskan, jg dengan singkat, tentang study objective saya.
Karena waktu simulasi interview saya cuma menjelaskan tentang diri saya dan sedikit sekali study objective saya, Mbak Mitha meminta saya untuk menjelaskan dengan lebih rinci lagi (Duhh....)
Selanjutnya kurang lebih ada 7 pertanyaan
1. Mau ngapain sekembalinya dari Amerika? (pertanyaan ini berasal dari Indo-Chinese Cheerful Man). Kenapa Cheerful? Karena ketawanya paling keras kalo ada sesuatu yang lucu. Saya agak tersendat dalam menjawab pertanyaan ini, sempat kehilangan kosa kata yang pas (maklum pertanyaan pertama, masih pemanasan), sehingga Mr. Indo-Chinese (lupa nama beliau) memotong pembicaraan saya dengan mengatakan: After that retired? (kemudian ketawa keras)
2. Kenapa Amerika? Apa keuntungan belajar di Amerika? Jawaban saya standar saja, karena Amerika banyak memiliki universitas kelas dunia, Amerika memiliki semangat yang besar dalam memperbaiki Pendidikan Anak Usia Dini yang menjadi interest saya, Alumni universitas di Amerika memiliki networking yang kuat, terutama international students nya sekembali dari study mrk di Amerika. (semua angguk2 kecil)
3. Universitas apa saja yang akan menjadi pilihan bila berhasil mendapatkan Scholarship? 
Disini saya merasa sedikit bahagia, karena saya menyebutkan satu universitas yang ternyata tidak satu pun dari panelists yang tau kalau perguruan tinggi ini ada: Erikson Institute. Saya merasa memberikan informasi baru. dalam hati seperti bilang: "Naah....pada ga tau kaan?"
4. Pernah keluar negeri? Atau kemana perjalanan terjauh anda dari kampung halaman? Bagaimana anda melihat perbedaan yang ada?
Ini Pertanyaan dari Mr. Alan yang perawakannya seperti Mr. Simon yang jadi juri galak di x-factor America (but Mr. Alan is a lot friendlier). Untuk pertanyaan ini mungkin Panelist mau tau kesiapan saya mengarungi dunia yang luas. Sayang sekali saya cuma bisa jawab kalo perjalanan terjauh saya baru sampai Bali, mudah-mudahan tahun depan bisa ke amrik (ngarep dot kom). Walaupun baru sampai Bali, tapi saya melihat cara berfikir orang Bali lebih terbuka, cara berpakaian mereka beda, cara mereka menerima budaya yang masuk juga berbeda jauh dengan orang Sumatera Barat, akan tetapi saya memandang itu sebagai keanekaragaman, it is a common thing.  Mr. Alan mengangguk kecil.
5. Pernahkah dalam pekerjaan anda dihadapkan pada situasi dan kondisi yang sulit, but at the end you can over come it? Giliran satu-satunya perempuan berkebangsaan Amerika mengajukan pertanyaan untuk saya. Saya langsung teringat pengalaman diminta untuk menggantikan atasan saya menjadi pembicara di diklat pendidik anak usia dini di kota tempat tugas saya. waktu yang diberikan cuma 2 hari. Saya cuma diberi judul materi yang harus saya sampaikan, tanpa dibekali apa-apa lagi selain doa. Waktu itu cukup panik plus kezel juga kenapa dadakan. Untung kenal internet, akhirnya saya bisa menyelesaikan makalah singkat dan media presentasi berupa power point dalam waktu dua malam. In fact, the participants considered me as the most fun speaker, free of feeling bored and sleepy. I found many smiling faces. I was so relieved, satisfied and happy. Kembali saya mendapat anggukan dan senyuman yang maniiiis sekali dari perempuan Amerika yang serius memang cantik banget dengan rambut ala Demi Moore.
6. Bagaimana perhatian pemerintah Indonesia terhadap pendidikan anak usia dini? 
Ini pertanyaan dari Mr. Indo-Chinese (again). Untuk pertanyaan ini saya sungguh kurang puas dengan jawaban saya sendiri, karena tidak cukup memberikan supporting details. Huff.... banyak yang kelupaan....
7. Kenapa Anda tidak memilih negara lain seperti Jepang atau Finlandia yang lebih maju pendidikan anak usia dini nya? 
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan terakhir dari panelist yang saat itu diajukan oleh Miss. Indo-Japanesse. Saya pede menjawab bahwa Amerika memang tidak terlalu bagus rankingnya diurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Akan tetapi President Obama sudah mempersiapkan dana yang besar untuk bidang Early Childhood Education. I believe that there will be remarkable progress in this field such as low quality of ECE programs, Low participation rate of children enrolling ECE programs and.... low salary of the educators (everybody laughed at that time) will be solved soon. and those problems are problems that Indonesian have, i am sure many things Indonesia can learn from America.
Terakhir Mr. Indo-Chinese menanyakan tentang sudah kah ketemu informasi tentang Erikson Institute? Langsung dijawab oleh Pria America yang sejak awal belum pernah mengajukan pertanyaan untuk saya. "Yes, I got it!" Sambil sesekali melihat laptop yang berada di depannya, Bapak Londo ini memberikan informasi kepada panelists lain bahwa perguruan tinggi pilihan saya memang khusus membidangi Childhood development. You really got the right hit!  kata beliau kepada saya. I take it as a compliment, Sir (dalam hati saja tentunya)
Mr. Alan yang memberikan closing statement  buat saya. Dari yang bisa saya pahami, beliau mengatakan bahwa alasan saya untuk belajar di Amerika cukup jelas, saya bahkan juga membahas tentang network alumni Fulbright yang memang terjalin kuat. Pilihan universitas saya bagus dan sesuai tapi menurut beliau saya juga harus siap-siap kalau seandainya terpilih harus menyediakan sendiri  biaya tambahan yang mungkin akan ada (I understand it as shortfall) karena pilihan pertama saya, Erikson Institute, adalah lembaga pendidikan swasta yang terkenal dengan biaya kuliahnya yang relatif tinggi. Saya mengangguk mengiyakan apa yang disampaikan Mr. Alan.
Kembali ke moderator, Mbak Mitha mengingatkan sambil menunggu keputusan panelist, tidak ada salahnya untuk mempersiapkan diri dan berkenalan dengan TOEFL IBT and.... (ada pause disini) saya langsung menyambung GRE :)
Mr. Alan kembali harus komen "Ah! You know that! Be ready with the math part" Kata beliau sambil tersenyum kecil.
Alhamdulillah... that's all what going on in 30 minutes in the room. Saya cukup puas dan senang. 
Seandainya dalam beberapa hari kedepan saya mendapat kabar baik, berarti pemirsa yang kebetulan sedang mencari beasiswa seperti saya, dan atau sudah mendapatkan panggilan interview, maka usahakanlah ada senyuman dan anggukan dari interviewers nya saat proses wawancara berlangsung. Namuuuun.... bila saya ternyata tidak diterima... (Please Dear God, jangan sampai ini keputusannya) berarti semua hal yang kita anggap positif, tidak menjamin kita bakal diterima. Barangkali ada beberapa hal yang dilihat oleh panelist dari diri saya yang masih jauh dari harapan. 
Akan tetapi yang paling penting dari itu semua adalah: APAPUN HASILNYA, YAKINI ITU SEBAGAI KEPUTUSAN DARI ALLAH YANG PASTI TERBAIK UNTUK SAYA..... 

Saya keluar dari Intiland Tower dengan penuh senyum. Mbak security yang berwajah kaku tetap terlihat manis dan ramah di mata saya saat menjelaskan dimana letak mushala (Padahal waktu saya masuk tadi, si mbak security kliatan lebih galak). Selesai shalat asyar saya berganti kostum rok saya dengan celana panjang karena rencana saya akan naik ojek menuju bandara mengikuti saran dari Mbak Mitha yang memikirkan kemungkinan macet kalo saya memilih naik taxi. Oh ya, kebetulan saya adalah kandidat terakhir yang diinterview pada hari itu, jadi dah yang paling sore.
Berbekal informasi dari Mbak Mitha tentang "reasonable price" of ojek to the airport, saya melakukan penawaran sama si Mas Ojek. dari 200rb yang ditawarkan, kami deal di angka 125 (sebelumnya si mas minta 150). 
Seperti yang saya ceritakan di awal, si mas ojek gesit banget menghindari macet, lumayan ngebut tapi cukup perhitungan. Saya sampai di bandara tanpa perlu buru-buru untuk segera check in. Saya berterimakasih sekali dan akhirnya tetap memberikan ongkos ojek Rp150rb seperti yang beliau minta. Kita sama-sama happy. Win-win.

Ayo Mas Ojek.... Please Help me (Fulbright Interview Journey Part II)

Terima Kasih Mas Ojek. Terima kasih karena sudah mengantarkan saya dengan selamat dan nyaris tanpa telat ke lokasi wawancara di Intiland Tower, Sudirman.
Terima kasih Mas ojek (yang lainnya) karena sudah berzig-zag, nyelip sana sini namun tetap dengan perhitungan dan hati-hati karena sudah membuat saya on time check in di Bandara Internasional Soekarno Hatta (yang ternyata pesawat yang akan membawa saya kembali ke kampung yang telat datangnya, delay mah biasa...)
Sedikit rempong memasuki gedunng Intiland Tower dikarenakan ransel besardan tas tangan yang saya bawa. Ditambah lagi rok yang saya pakai seharusnya dibuat lebih lebar sehingga langkah kaki saya bisa lebih lebar-lebar. Nggak papa... Alhamdulillah sudah sampai dengan selamat dan tanpa gores sedikutpun (walo keringatan....Jakarta sumuk bow, ojek full angin tak bisa mengalahkan gerahnya Jakarta).
Saat saya memasuki kantor Aminef, di ruang tunggu sudah ada gadis cantik yang dari card visitor yang tersemat di jibabnya bisa dipastikan juga tamu, dan kemungkinan juga sedang menunggu giliran wawancara. Benar saja, kami berkenalan dan ternyata kami berdua sama-sama dari Padang. Fanny, gadis cantik itu, sudah mengikuti wawancara Fulbright untuk kedua kalinya. Kami ngobrol dengan berbisik-bisik tentang pengalamannya. Tentang kemungkinan kenapa tahun lalu dia gagal. Persiapan, itu yang kurang dilakukan Fanny disamping spoken English yang menurutnya kurang bagus.
Berbeda dengan menunggu pacar yang semenit terasa amat lama, menunggu giliran dipanggil untuk wawancara rasanya kok cepat banget...
Fanny dipanggil masuk ruangan interview oleh Mbak Mitha yang wajahnya sangat familiar buat saya (Ehh... si Mbak ini kan yang video penjelasannya tentang program Fulbright banyak beredar di Youtube?). Sebelum Fanny ada candidate dari Aceh yang juga seperti saya, akan segera langsung menuju bandara untuk terbang kembali ke Aceh (tentengannya koper kecil, lebih besar sedikit dari ransel saya). Sebelum keluar, kami bertiga saling mengucapkan GOOD LUCK (semoga kita ketemu lagi di next stage ya guys :))
30 menit berlalu, tibalah giliran saya. Berbeda dengan sesi sebelumnya yang cepat pergantian candidate yang dipanggil masuk, pas giliran saya agak sedikit lama, karena beberapa panelists keluar untuk bisnis kecil di restroom. Tidak membuang kesempatan ini, Fanny berbaik hati menceritakan dengan ringkas proses pembantaiannya di dalam sana. Fanny juga membantu saya untuk mengambil gambar saya berlatarbelakang logo Fulbright yang mendunia itu. (dari tadi dah kepingiiiin.... tapi malu..hahahah)
Ini Foto saya, hasil jepretan Fanny:
Sesaat,,, bener-bener sesaat setelah foto ini diambil, saya dipanggil Mbak Mitha memasuki ruang eksekusi....
Detail wawancara akan saya ceritakan segera di post part III ya.....

Hi, Interview Result..... How Are You? (Fulbright Interview Journey Part I)

Sedang galau menunggu hasil interview Fulbright tanggal 19 Agustus 2015 yang lalu.
Baiklah.... Mending menulis sedikit, flash back ke hari dimana saya mendapatkan kabar baik dari Aminef. Bertepatan dengan hari ulang tahun saya, email yang diharapkan itu pun datang. Sungguh hadiah ulang tahun terbaik yang pernah saya dapatkan.
Saking senang+nervous saya berulang kali membaca email yang ditujukan kepada 3 orang beruntung yang ditanyakan kesediaannya untuk diwawancara. Of Course!! Absolutely! Certainly laah...
Saya meminta suami untuk ikut membaca email dari Aminef tersebut (cuz khawatir saya salah baca). Alhamdulillaah.... ternyata saya tidak sedang berhalusinasi, hhehe
Tanpa menunggu lagi saya langsung kabari orang tua dan mertua yang juga ikut bahagia. Tidak lupa Saya mengirim BBM kepada Bung Budi Waluyo yang sudah berbaik hati berbagi tips sukses Fulbright melalui blog nya, plus bantuan langsung dengan memberi masukan Study Objective saya. Waktu itu Bung Budi membalas pesan saya dengan kata pembuka : Selamat..... tapi jangan senang dulu.... (hmmm.... saya yakin maksudnya bukan buat mengurangi kebahagiaan saya, tapi lebih kepada menyemangati untuk bersiap, YUP!)
Semenjak itu saya jadi lebih rajin browsing internet tentang tips-tips wawancara beasiswa. Saya juga menghubungi sahabat dari SMP yang memiliki kualifikasi sebagai seorang interviewer. Bersamanyalah saya melakukan simulasi interview walau hanya melalui telephon. Percayalah saudara-saudara..... saya sudah sangat nervous di tahap simulasi ini (karena saya tau sahabat saya ini walau baik dan cerdas, tapi juga terkenal galak...). Pun interview kali ini adalah yang pertama di hidup saya. Lengkaplah sudah....
Saya melakukan langkah-langkah berikut untuk mempersiapkan diri menghadapi tes interview Fulbright:
1. Saya membaca tips-tips interview beasiswa di beberapa blog yang saya temukan.
2. Saya berkonsultasi dengan sahabat yang memiliki pengalaman interview Fulbright. Dari persepsinya, saya mendapat gambaran bahwa proses interview Fulbright itu tidak terlalu menakutkan. Waktu itu dia ditanya sedikit tentang study Objective dan research proposalnya (sahabat saya akan melanjutkan pendidikan S3) dan kemudian beralih ke pertanyaan tempat wisata yang ada di daerah asalnya; berapa lama jarak tempuhnya, berapa biayanya, dst..... Santai banget ya? Dan dia diterima!!
Well..... barangkali apa yang sudah ditulis sahabat saya ini di SO dan RP nya sudah cukup jelas, jadi ga perlu keterangan tambahan, sedangkan untuk saya bisa saja lain ceritanya... (ternyata benar)
3. Saya menuliskan beberapa pertanyaan yang saya "curigai" bakal ditanyakan panelists nanti, menuliskan jawaban saya, dan berusaha menghafalnya ( it didn't work, saya sadar, saya bukan tipe penghafal). Saya ganti metodenya, daftar pertanyaan yang saya tulis di kertas karton kecil menyerupai flashcard itu hanya saya jadikan poin ide saja, bukan uraian yang harus dihafal.
4. Menemukan sahabat, saudara dan sekaligus teman kerja yang sudi membantu saya untuk menyelesaikan tugas kantor yang sedang menumpuk. Believe me..... untuk point ini tidak semua orang seberuntung saya. And if you want to find someone like that, You cannot find her/him in instant ;) ( Thank you Sister Desi)
5. Saya melakukan simulasi dan refleksi tentang hasil interview pura-pura yang bikin nerve lumayan kaku. (Salut padamu sahabat, yang memilih menjadi ibu rumah tangga dan mau merelakan segala potensi yang ada tercurah tuk keluarga..... Thanks Sister Tika)
6. Berdoa siang dan malam. Ini penting banget untuk meredakan kegalauan. Semua yang terjadi atas kehendak-Nya, dan hanya kepada-Nya lah hendaknya kita meminta dan berpasrah.
7. Di hari H saya tidak membaca apa-apa lagi.... saya malah sempatkan jalan-jalan ke Monas pagi hari sebelum wawancara.... Sesekali ke Jakarta gini.... Hihihii

Rabu, 02 September 2015

Perjuangan Menemukan Referensi : Setelah Berkelana Selama 12 tahun

Lebih kurang 12 tahun yang lalu saya berhasil menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Negeri Padang (UNP). Sudah selusin tahun, dan baru sekarang akan kembali kesana lagi untuk meminta tolong salah seorang dosen agar sudi menuliskan surat sakti yang bernama "Referensi" untuk saya. Untuk eks mahasiswi yang kurang aktif di organisasi seperti saya, ini bukan perkara yang mudah. Untuk sekedar mengingatkan Bapak/Ibu Dosen tercinta bagaimana performa saya selama kuliah pun harus lebih jeli, mengingat tenggat waktu yang sudah cukup lama....
Alhamdulillah bidang yang saya geluti sekarang masih ada benang merahnya dengan salah satu mata kuliah "pilihan" yang memang sengaja saya ambil saat itu. Tidak disangka, satu mata kuliah pilihan itu menjadi sangat berarti sekarang.
Sebelum menyambangi kampus, saya mencari informasi no contact Ibu dosen baik hati incaran saya. Saya menghubungi Bu Dosen untuk menanyakan kesediaannya memberikan saya referensi untuk mencoba mendaftar beasiswa AAS dan Fulbright. Sukur Alhamdulillah Si Ibu menyambut baik niat saya dan bersedia membantu.
Jarak kota kecil tempat saya bekerja sekarang dengan Kota Padang sebetulnya tidak terlalu jauh, kurang lebih 60km saja yang bisa ditempuh selama 1,5 jam dengan menggunakan angkutan umum. Berangkatlah saya pada hari itu walau sebetulnya tiba-tiba saja ada tugas kantor yang mendadak datang. Saya sampaikan keatasan akan saya usahakan (menyesal banget karena saya tau sekali kalau saya tidak bakal bisa melaksanakannya hari itu). Benar saja. Saat berada di atas bus yang membawa saya dan sahabat saya yang sudi menemani "ber-reuni" ke kampus kami, atasan saya menelpon.... Alamak..... Berusaha tenang saya menjawab panggilan masuk tersebut dan menjelaskan kalau saya sedang dalam perjalanan ke Padang karena sudah terlanjur membuat janji dengan Dosen (Saya jamin pasti atasan saya bingung, apa hubungan saya sama Dosen?). Biar sajalah. Besok saya berjanji akan menjelaskan apa yang terjadi.
Hujan cukup lebat mengguyur Kota Padang disaat kami sampai, untung sedia payung sebelum hujan. Tidak lama menunggu, Bu Susi, Dosen cantik yang masih tetap saja cantik setelah 12 tahun itu pun datang. Saya langsung pasang senyum dengan harapan Buk Susi bisa mengenali saya. Alhamdulillah beliau sepertinya ingat saya, atau paling tidak mulai mendapat gambaran dari apa yang sudah saya ceritakan via telepon. Buk Susi memberikan support kepada saya untuk tetap semangat mengejar beasiswa. Pertanyaan sempat dilayangkan kepada Uni Desi, sahabat yang menemani saya; "Desi gak coba mendaftar beasiswa juga?"
Saya tau betul jawaban yang akan diberikan Uni Desi "Ga dapat izin dari Suami, Buk"
Begitulah..... suami saya menunjukkan cintanya dengan memberikan kesempatan kepada saya untuk mengejar mimpi dan cita-cita, dan Suami sahabat saya juga punya caranya sendiri untuk menunjukkan betapa cintanya dia kepada istrinya " Tak sanggup ku jauh darimu walau hanya sekejap, sayang...."

Selasa, 01 September 2015

Mengejar Mimpi Menuju Negeri Paman Sam dengan Fulbright Part 1

Saya : Ikutan daftar Fulbright juga yuk Pak A?
Mr. A: Enggak ah, Fulbright itu buat yang bener-bener Full- bright-nya. Besok-besok deh.

Itu obrolan singkat saya dengan teman sekantor sekaligus teman seperjuangan dalam mengejar impian sekolah di luar negeri dengan beasiswa. Saya mengajak beliau untuk untuk sama-sama daftar AAS di tahun 2014, tapi kami berdua sama-sama gagal. Aku Ra Popo.
Di awal tahun 2015 kembali saya ajak untuk mencoba lagi beasiswa yang sama plus beasiswa lain yang sebenarnya sudah kami kenal sejak dahulu kala. Tapi ya itu tadi.... beliau lagi gak mood.... hihihi...
Saya coba sendiri. Saya belajar TOEFL lagi karena skor TOEFL saya belum mencukupi untuk bisa mendaftar Fulbright. Saya semangati diri kalau semakin tinggi persyaratan sebuah beasiswa pasti yang daftar juga lebih sedikit secara lebih susah, yang berarti saingan semakin sedikit. Heheh... Ayo semangat! You can do it!
Deadline Fulbright yang tanggal 15 April terasa masih cukup lama karena waktu itu saya cek ke websitenya sekitar awal Januari. Bisa nyante dulu....
Di tengah kesibukan kantor saya sempatkan melirik kedua aplikasi beasiswa yang menjadi target saya. Untuk Fubright program Master, saya diharuskan untuk membuat selembar  Study Objective. Study Objective ini kayak apa ya? Saya googling di internet, buka blog ini itu. Alhamdulillah saya menemukan websitenya Bung Budi Waluyo yang generous banget berbagi ilmu meraih impian sekolah di luar negeri. Pikir saya, hebat banget orang ini, umur segini sudah mau S3.... Saya yang beberapa tahun lebih tua saja mo lanjut S2 kok ya susah bener... (sambil elus dada)
Saya mendapatkan contoh Study Objective dari blog beliau. For your information, his web is much richer than I expected. Yang mau hunting beasiswa wajib follow. Bung Budi juga menyertakan no pin BB dan no WA di websitenya.... Wah...bener-bener serius mau bantu orang lain (Biasanya yang mo jualan aja yang mau pin BBnya di ekspos di dunia maya)
Semoga dibalas Allah dengan kesuksesan dunia dan akhirat ya Bung Budi....
Saya juga minta bantuan teman yang lulus Fulbright untuk program Phd 2014 yang sayangnya gagal berangkat karena tidak ada universitas yang mau menerima... kenapa ya? Ayo coba lagi, Friend!
Dari sahabat ini saya memperoleh copian application form nya dan proposal research which is not yet I need. Ga papa... nambah-nambah ilmu...
Setelah terseok-seok selama lebih kurang 3 minggu, Study Objective saya akhirnya selesai juga. And then what? Saya beranikan diri meminta bantuan Bung Budi secara langsung untuk mereview SO saya. Beliau menyanggupi. Alhamdulillah...... makin banyak ajalah orang baik kayak gini yaa?
Setelah mendapat masukan saran dari Bung Budi, SO saya perbaiki, Ga pake minta revisi ulang, saya pede saja pake SO ini buat aplikasi.
Mengisi application form is another thing. Lihat contoh milik sahabat saya, kok ya jadi minder sendiri. Publikasinya dah banyak, pengalaman organisasinya dah skala internasional (barangkali karena S2nya dulu dapat di Aussy jadi linknya sudah jauh lebih luas). Wahhh..... gimana nih? terus ga ya?
Biarlah saya apa adanya, yang serius seadanya...
Biarlah usia juga dah mulai menua...tapi yang penting semangatnya tetap menyala....
Lanjut? Lanjooooooot.....
Keasyikan mempersiapkan berkas, saya malah melalaikan satu hal yang sangat pentiiing. TOEFL Test!
Saya reserve posisi buat ujian TOEFL, tapi ternyata sudah penuh. Sesi selanjutnya tanggal 11 April, yang artinya hasil test akan keluar maks 10 hari seteleh itu....artinya lagi itu dah abis deadline Fulbright yang tanggal 15 April... hiks.... masa gagal sih?
Tak berputus asa, saya telpon Aminef. Si Mbak ramah di seberang sana memberi jawaban positif kalau saya bisa menyusulkan hasil TOEFL saya melalui email, yang penting hardcopy untuk form aplikasi sudah harus sampai sebelum deadline. SIAP Mbak! Ehhh... tapi tunggu dulu...sebelumnya sudah pernah ikut tes TOEFL ITP kan mbak? Berapa score nya? Kata Mbak Aminef itu lagi.... (jangan sampai mbak dah capek2 kirim aplikasi ternyata hasil TOEFLnya nanti 450: itu pernyataan implisitnya)
Dengan membacakan Basmallah, aplikasi Fulbright saya kirimkan pada tanggal 14 April 2015. Mari pasrah menunggu dan berdoa. Berbeda dengan AAS tahun 2014 yang saya sangat sangat ngarep dan PEDE..... buat kali ini saya aseli pasrah dan berdoa saja semoga Allah kasi yang terbaik (Ga mau ngotot lagi).
Alhamdulillah hasil TOEFL saya passsssssssss 550 (hahahahah) berarti bisa lanjut aplikasi Fulbright. Saya kirimkan segera scan TOEFL Score via email ke Aminef. Mari melanjutkan penantian....

Perjuangan Mengejar Beasiswa AAS

Sungguh saya menyesal bila mengingat masa-masa kuliah S1 saya yang penuh dengan ketidakseriusan. Saat itu saya tidak punya target apa-apa. Cukup bisa lulus dengan memuaskan. Sudah.
Saya sering berusaha mengingat dimana saya disaat dosen jebolan universitas LN menceritakan, memotivasi mahasiswanya untuk mempersiapkan diri meniti jalan yang sama...
Saya sering berfikir obrolan apa yang saya sempatkan disaat dosen bercerita tentang usaha yang dilakukannya agar bisa melanjutkan kuliah di luar negeri...
Saya sering berkhayal memiliki mesin waktu dan balik kembali dimasa dimana saya bisa melakukan lebih baik dari yang sudah saya lakukan saat itu....
Bayangkan....
Andai saja saya tau kalau melanjutkan  kuliah di luar negeri bisa didapatkan dengan beasiswa
Andai saya tau aktif di organisasi kampus bisa menjadi modal saya untuk bersaing mendapatkan beasiswa
Andai saya tau kalau mata kuliah penelitian itu sangat penting untuk mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan  yang lebih tinggi....
Andai saya tau semua itu, tentu saya tidak banyak santai, main, becanda, molor di kelas atau malah ikutan bolos kuliah berjamaah untuk sekedar nonton Armageddon di bioskop kelas menengah (at least di minimalisir laah.... sesekali asyik juga kok #jangan ditiru yaa)
Well, semua sudah terjadi, tidak perlu disesali yang penting ada kemauan untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan diri dengan serius untuk mengejar cita-cita...YIhaaa!
Pertama kali mendengar soal beasiswa ke luar negeri dari sahabat saya yang berhasil mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) di tahun 2006.
Saya jadi termotivasi untuk melalukan hal yang sama. Namun pada saat itu saya sadar banget kalau usaha saya sangat amat minim. Mengisi form aplikasi saja asal jadi dan tidak membaca semua persyaratan dengan baik. Saya yakin sekali kalau aplikasi saya langsung terbang ke tong sampah.
Saya memang kesulitan memahami betapa pentingnya bidang saya sehingga pantas untuk mendapatkan beasiswa. Saat itu saya masih menjadi guru Bahasa Inggris SD (ternyata memang ga penting ya? buktinya sekarang di kurtilas pelajaran Bahasa Inggris dihapuskan buat anak SD)
Benar saja, beberapa bulan kemudian datanglah Pak Pos mengantarkan surat penolakan. I am quit.
Cepat menyerah ya? Bener banget. Saya kemudian fokus ke urusan keluarga, saya punya anak, enjoy my motherhood time, terus punya anak lagi Sampai di tahun 2011 saya kembali terbangun dari tidur panjang untuk segera mewujudkan mimpi saya untuk bisa merasakan pendidikan di bagian bumi Allah yang lain. Alhamdulillah Suami saya selalu mendukung. Walau sudah diujung batas usia pendaftaran untuk Teacher Training ke Jepang, saya tetap coba. Dapat panggilan tes ke Jakarta, semua dibiayai sendiri, tidak mengapa....demi.
Saya kaget juga melihat peserta tes yang begitu banyak, masih muda-muda dan kelihatan smart. Waduhh.... dah keder duluan....
Seperti yang sudah saya prediksikan (walo masih tetap mengharap ada keajaiban) saya gagal di tahap ini. Vakum lagi.
Baru di tahun 2014 saya memulai lagi hunting beasiswa. Kali ini jauh lebih pede dalam mempersiapkan bahan-bahan persyaratannya, dan lebih fokus dalam pengisian form aplikasinya. Saya sekarang bukan lagi guru Bahasa Inggris SD. Saya pindah tugas menjadi Penilik PAUD. Bagi yang belum familiar dengan jenis pekerjaan ini, Penilik adalah semacam Pengawas sekolah, hanya saja kalau Pengawas itu untuk pendidikan formal (SD s/d SMU), sedangkan Penilik untuk pendidikan non formal seperti PAUD, Kesetaraan Keaksaraan, Kecakapan hidup dan kursus. Penilik dan Pengawas memiliki job description yang kurang lebih sama.
Saya mencoba apply beasiswa AAS (saya kepingiiiiiin banget bisa kuliah di Autraliyah). Saya siapkan semuanya semaksimal mungkin;
1. Saya belajar TOEFL lagi, karena serius, jadi guru Bahasa Inggris SD selama 8 tahun membuat kemampuan bahasa Inggris saya "jalan ditempat". Almost no improvement at all!  Gimana mau nambah....setiap saya berusaha menggunakan Bahasa Inggris di kelas lebih dari 50% saja, anak-anak pada protes..... gimana ya bikin mereka tertantang buat memahami bahasa tanpa harus ada acara translate2an segala? Bikin frustasi aja.
Saya tidak sanggup dari segi biaya untuk tes TOEFL IBT atau pun IELTS, sudahlah biaya tesnya mahal, tidak ada pun di Sumatera Barat, Harus ke Jakarta atau Batam dulu.... biaya lagi tho? So, TOEFL ITP aja deh. At the first trial saya baru bisa mencapai skor 533, lumayanlah..... untuk daftar AAS kan minimum 500.... jadi bisa dipakai....Alhamdulillah
2. Saya baca-baca blog para awardees AAS seperti blognya Bli Made Arsana (yang lagi hunting AAS pasti di guide kesini sama Om google). Banyak yang saya pelajari disana, termasuk cara dan tips pengisian form aplikasi (Orang ga pelit ilmu seperti beliau ini harus ditiru ya guys?!) Saya menghabiskan waktu lebih kurang 1 bulan untuk mengisis form aplikasi. Beberapa kali diedit, sayangnya waktu itu saya tak punya siapapun untuk membantu cek dan ricek.
3. Saya browsing universitas di Autralia yang menyediakan Postgraduate program di bidang Education Management yang ingin saya ambil. Saya mengirim email kepada mereka, saya print balasan dari mereka sebagai bukti kalau saya serius mencari informasi tentang perkuliahan disana
4. Saya menyisihkan uang belanja untuk menterjemahkan akta kelahiran dan KTP kepada sworn translator yang direkomendasikan di website resmi AAS (saya ingin menunjukkan kalau dari awal saya sudah mempersiapkan semua berkas yang diminta, walaupun untuk versi bahasa Inggris dari beberapa dokumen seperti iajazah, transkrip, akta kelahiran dan KTP baru dilengkapi bila sudah dinyatakan lulus). Oh ya, untuk ijazah dan transkrip sudah lebih dahulu saya buat versi bahasa Inggris nya di Universitas asal tempat saya memperoleh gelar S1.
5. Saya jilid rapi semua bahan wajib dan tambahan untuk kemudian saya kirimkan ke managemen AAS di Jakarta
6. Berdoa. Saya berdoa siang malam semoga berkas saya dilirik tim penyeleksi. Saya bahkan "menitip" doa kepada mertua yang kebetulan berangkat haji ditahun yang sama. In short, God must know I really want this.
Akan tetapi apa yang kita inginkan belum tentu langsung diiyakan oleh NYA. Di pertengahan Oktober 2014 saya iseng buka email lewat hp dan mendapatkan notifikasi kalau ada komen terbaru di blog nya Bli Made, saya baca, ternyata ada yang mengucapkan terimakasih karena dengan belajar dari blog beliau, orang tersebut dapat email panggilan wawancara AAS. So?! Email buat sayah
manah?
Tidak puas membuka email di Hp saya langsung nyalakan laptop (padahal waktu itu sudah lewat jam 12 malam, mata saya sebelumnya sudah mulai mengantuk, tapi langsung melek lagi)
Tidak ada email dari AAS buat saya. Sedang panik bgitu teman seperjuangan yang sama2 apply ke AAS kirim sms ke saya : Sudah dapat email dari AAS? Saya sudah dan saya gagal (itu kira2 yang ditulisnya di sms)
Saya tidak sabar menunggu besok untuk segera menelpon saja ke kantor AAS.
Besok pun tiba. Penuh harap saya telp kantor AAS di Jakarta. Mbak bersuara cukup ramah diseberang sana meminta saya untuk mengecek email di spam, barangkali nyasar disana. Saya lakukan, tapi nihil, Saya mulai berprasangka kalau mungkin saja kiriman dokumen saya tidak pernah sampai ke tim seleksi AAS.... bisa jadi kan? Bisa ga ya?
Penuh galau, akhirnya beberapa hari penantian saya pun berakhir suram. Saya ditolak. Kecewa? Pasti duong. Saya kabari suami, mertua dan Emak tercinta. Diluar dugaan suara Mak malah terdengar seperti lega. Lho? Ternyata selama ini beliau belum siap melepas saya pergi jauh menuntut ilmu ke negeri orang. Akhirnya ngaku juga. Oalah Maaaak.....
Saat saya menulis ini, saya sedang menantikan hasil seleksi berkas AAS untuk ronde 2015. Masih bulan depan. Berdoa saja...
Oh ya...saat ini saya juga sedang menunggu hasil interview beasiswa Fulbright. Iya, saya dipanggil wawancara untuk Fulbright. Untuk lebih detailnya akan saya entry khusus di cerita Fulbright  ya? :)
Keep fighting scholarship Hunters!