Jumat, 04 September 2015

Erikson Institute? Where is it? (Fulbright Interview Journey Part III)

Dengan membaca Basmallah, saya memasuki ruangan interview....
Sebelumnya Mbak Mitha sudah menjelaskan bahwa ada 6 orang di dalam, 3 orang asing, 2 orang alumni Fulbright dari Indonesia (yang wajahnya 1 seperti Chinese and 1 lagi seperti Japanese) dan 1 orang dari manajemen Aminef (bersama dengan Mbak Mitha, pria muda ini juga Indonesia banget)
7 orang.... yang saya sering baca di blog2 tentang wawancara beasiswa, interviewernya cuma 3 atau 4 orang saja, ini 5... untung Mbak Mitha and nice guy satu lagi tidak ikutan "ngeroyok"
Mbak Mitha bertindak sebagai moderator membuka sesi wawancara dengan meminta saya untuk memperkenalkan diri dengan singkat dan menjelaskan, jg dengan singkat, tentang study objective saya.
Karena waktu simulasi interview saya cuma menjelaskan tentang diri saya dan sedikit sekali study objective saya, Mbak Mitha meminta saya untuk menjelaskan dengan lebih rinci lagi (Duhh....)
Selanjutnya kurang lebih ada 7 pertanyaan
1. Mau ngapain sekembalinya dari Amerika? (pertanyaan ini berasal dari Indo-Chinese Cheerful Man). Kenapa Cheerful? Karena ketawanya paling keras kalo ada sesuatu yang lucu. Saya agak tersendat dalam menjawab pertanyaan ini, sempat kehilangan kosa kata yang pas (maklum pertanyaan pertama, masih pemanasan), sehingga Mr. Indo-Chinese (lupa nama beliau) memotong pembicaraan saya dengan mengatakan: After that retired? (kemudian ketawa keras)
2. Kenapa Amerika? Apa keuntungan belajar di Amerika? Jawaban saya standar saja, karena Amerika banyak memiliki universitas kelas dunia, Amerika memiliki semangat yang besar dalam memperbaiki Pendidikan Anak Usia Dini yang menjadi interest saya, Alumni universitas di Amerika memiliki networking yang kuat, terutama international students nya sekembali dari study mrk di Amerika. (semua angguk2 kecil)
3. Universitas apa saja yang akan menjadi pilihan bila berhasil mendapatkan Scholarship? 
Disini saya merasa sedikit bahagia, karena saya menyebutkan satu universitas yang ternyata tidak satu pun dari panelists yang tau kalau perguruan tinggi ini ada: Erikson Institute. Saya merasa memberikan informasi baru. dalam hati seperti bilang: "Naah....pada ga tau kaan?"
4. Pernah keluar negeri? Atau kemana perjalanan terjauh anda dari kampung halaman? Bagaimana anda melihat perbedaan yang ada?
Ini Pertanyaan dari Mr. Alan yang perawakannya seperti Mr. Simon yang jadi juri galak di x-factor America (but Mr. Alan is a lot friendlier). Untuk pertanyaan ini mungkin Panelist mau tau kesiapan saya mengarungi dunia yang luas. Sayang sekali saya cuma bisa jawab kalo perjalanan terjauh saya baru sampai Bali, mudah-mudahan tahun depan bisa ke amrik (ngarep dot kom). Walaupun baru sampai Bali, tapi saya melihat cara berfikir orang Bali lebih terbuka, cara berpakaian mereka beda, cara mereka menerima budaya yang masuk juga berbeda jauh dengan orang Sumatera Barat, akan tetapi saya memandang itu sebagai keanekaragaman, it is a common thing.  Mr. Alan mengangguk kecil.
5. Pernahkah dalam pekerjaan anda dihadapkan pada situasi dan kondisi yang sulit, but at the end you can over come it? Giliran satu-satunya perempuan berkebangsaan Amerika mengajukan pertanyaan untuk saya. Saya langsung teringat pengalaman diminta untuk menggantikan atasan saya menjadi pembicara di diklat pendidik anak usia dini di kota tempat tugas saya. waktu yang diberikan cuma 2 hari. Saya cuma diberi judul materi yang harus saya sampaikan, tanpa dibekali apa-apa lagi selain doa. Waktu itu cukup panik plus kezel juga kenapa dadakan. Untung kenal internet, akhirnya saya bisa menyelesaikan makalah singkat dan media presentasi berupa power point dalam waktu dua malam. In fact, the participants considered me as the most fun speaker, free of feeling bored and sleepy. I found many smiling faces. I was so relieved, satisfied and happy. Kembali saya mendapat anggukan dan senyuman yang maniiiis sekali dari perempuan Amerika yang serius memang cantik banget dengan rambut ala Demi Moore.
6. Bagaimana perhatian pemerintah Indonesia terhadap pendidikan anak usia dini? 
Ini pertanyaan dari Mr. Indo-Chinese (again). Untuk pertanyaan ini saya sungguh kurang puas dengan jawaban saya sendiri, karena tidak cukup memberikan supporting details. Huff.... banyak yang kelupaan....
7. Kenapa Anda tidak memilih negara lain seperti Jepang atau Finlandia yang lebih maju pendidikan anak usia dini nya? 
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan terakhir dari panelist yang saat itu diajukan oleh Miss. Indo-Japanesse. Saya pede menjawab bahwa Amerika memang tidak terlalu bagus rankingnya diurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Akan tetapi President Obama sudah mempersiapkan dana yang besar untuk bidang Early Childhood Education. I believe that there will be remarkable progress in this field such as low quality of ECE programs, Low participation rate of children enrolling ECE programs and.... low salary of the educators (everybody laughed at that time) will be solved soon. and those problems are problems that Indonesian have, i am sure many things Indonesia can learn from America.
Terakhir Mr. Indo-Chinese menanyakan tentang sudah kah ketemu informasi tentang Erikson Institute? Langsung dijawab oleh Pria America yang sejak awal belum pernah mengajukan pertanyaan untuk saya. "Yes, I got it!" Sambil sesekali melihat laptop yang berada di depannya, Bapak Londo ini memberikan informasi kepada panelists lain bahwa perguruan tinggi pilihan saya memang khusus membidangi Childhood development. You really got the right hit!  kata beliau kepada saya. I take it as a compliment, Sir (dalam hati saja tentunya)
Mr. Alan yang memberikan closing statement  buat saya. Dari yang bisa saya pahami, beliau mengatakan bahwa alasan saya untuk belajar di Amerika cukup jelas, saya bahkan juga membahas tentang network alumni Fulbright yang memang terjalin kuat. Pilihan universitas saya bagus dan sesuai tapi menurut beliau saya juga harus siap-siap kalau seandainya terpilih harus menyediakan sendiri  biaya tambahan yang mungkin akan ada (I understand it as shortfall) karena pilihan pertama saya, Erikson Institute, adalah lembaga pendidikan swasta yang terkenal dengan biaya kuliahnya yang relatif tinggi. Saya mengangguk mengiyakan apa yang disampaikan Mr. Alan.
Kembali ke moderator, Mbak Mitha mengingatkan sambil menunggu keputusan panelist, tidak ada salahnya untuk mempersiapkan diri dan berkenalan dengan TOEFL IBT and.... (ada pause disini) saya langsung menyambung GRE :)
Mr. Alan kembali harus komen "Ah! You know that! Be ready with the math part" Kata beliau sambil tersenyum kecil.
Alhamdulillah... that's all what going on in 30 minutes in the room. Saya cukup puas dan senang. 
Seandainya dalam beberapa hari kedepan saya mendapat kabar baik, berarti pemirsa yang kebetulan sedang mencari beasiswa seperti saya, dan atau sudah mendapatkan panggilan interview, maka usahakanlah ada senyuman dan anggukan dari interviewers nya saat proses wawancara berlangsung. Namuuuun.... bila saya ternyata tidak diterima... (Please Dear God, jangan sampai ini keputusannya) berarti semua hal yang kita anggap positif, tidak menjamin kita bakal diterima. Barangkali ada beberapa hal yang dilihat oleh panelist dari diri saya yang masih jauh dari harapan. 
Akan tetapi yang paling penting dari itu semua adalah: APAPUN HASILNYA, YAKINI ITU SEBAGAI KEPUTUSAN DARI ALLAH YANG PASTI TERBAIK UNTUK SAYA..... 

Saya keluar dari Intiland Tower dengan penuh senyum. Mbak security yang berwajah kaku tetap terlihat manis dan ramah di mata saya saat menjelaskan dimana letak mushala (Padahal waktu saya masuk tadi, si mbak security kliatan lebih galak). Selesai shalat asyar saya berganti kostum rok saya dengan celana panjang karena rencana saya akan naik ojek menuju bandara mengikuti saran dari Mbak Mitha yang memikirkan kemungkinan macet kalo saya memilih naik taxi. Oh ya, kebetulan saya adalah kandidat terakhir yang diinterview pada hari itu, jadi dah yang paling sore.
Berbekal informasi dari Mbak Mitha tentang "reasonable price" of ojek to the airport, saya melakukan penawaran sama si Mas Ojek. dari 200rb yang ditawarkan, kami deal di angka 125 (sebelumnya si mas minta 150). 
Seperti yang saya ceritakan di awal, si mas ojek gesit banget menghindari macet, lumayan ngebut tapi cukup perhitungan. Saya sampai di bandara tanpa perlu buru-buru untuk segera check in. Saya berterimakasih sekali dan akhirnya tetap memberikan ongkos ojek Rp150rb seperti yang beliau minta. Kita sama-sama happy. Win-win.

3 komentar:

  1. I can hardly wait for the result of the interview, Bund......
    But I'm sure that you'll pass it.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Me too Uni....
      Every email notification I got berasa kayak ada sengatan listrik keciiil hiihihi...
      Amiiiin..... let's pray that I will, Un...
      Thanks so much...

      Hapus