Mimpi bisa kuliah saja sudah merupakan suatu hal yang "Wah" menurut ukuran anak pantai seperti saya. Lamat-lamat masih teringat obrolan singkat saya bersama Emak. waktu itu rasanya saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kelas 2 apa 3 gitu deh. Saya bilang ke Emak: "Mak, besok udah besar aku kuliah ya?" Waktu itu belum ngerti kuliah itu apa, cuma kayaknya keren aja liat om dan tante yg kos disekitaran rumah yang saban hari berpakaian rapi dan ganti2 (ga pake seragam macam anak Es-DE). Oh ya, waktu itu nyapa mahasiswa or mahasiswi yang lewat depan rumah dengan panggilan "om" atau "tante"... (ampun dehhh.... pas udah ngalamin sendiri dipanggil tante padahal masih meling2 muda belia waktu udah kuliah, bete banget...hihihi). Tau apa jawaban Emak dengar pertanyaan+pernyataan anak lugu usia 8 or 9 tahun yg kepengen kuliah? Emak jawabnya gak kalah polosnya : "Kita lihat besok ya, Nak? Biaya kuliah itu mahal banget. Banyak berdoa aja ya?"
Aseli.... saya ingat banget waktu itu saya melongo, sedikit kecewa, kenapa tidak ada kalimat-kalimat penuh semangat keluar dari Emakku tercinta. Setelah besar saya baru sadar, Emak cuma bersikap realistik. Waktu itu yang bisa kuliah hanya anak orang yang berasal dari kalangan menengah keatas, yang orang tuanya pegawai, atau yang punya deposito atau punya tanah yang bisa dijual buat biaya kuliah, dan kami termasuk kalangan menengah yg rada tergelincir ke bawah, hehehe....
Di kelas 5 SD saya ingat pernah nyolong kapur tulis beberapa cuil untuk saya bawa pulang. Di pintu masuk rumah saya tulis nama saya sepeti ini : Prof.Dr.H. Ndaru Prapti, SH. Saya kotakin pake kapur dengan warna lain ( belakangan saya ganti H dengan Hj, karena kata Bapak H itu buat laki2 dan Hj baru buat perempuan). Saya terinspirasi melihat pintu rumah Bapak-bapak dosen tetangga beberapa gang dari rumah saya yang punya plang nama cantik berwarna putih, hitam atau keemasan yang tertempel di pintu masuk rumah mereka. Keren banget. Siapa pun bakal tau pemilik rumah bagus ini namanya jadi panjang karena singkatan-singkatan yang banyak. Pengen kayak itu juga.
Mimpi pingin kuliah mulai mengabur, lebih tepatnya mulai tau menempatkan diri, saat masuk ke jenjang pendidikan menengah. Saya mengalami "Culture Shock" ala lokal, hehehe
Saya kaget melihat pergaulan anak SMP yang mulai macam-macam. Kalau dulu waktu SD teman kita ya hanya sekitaran rumah (yang status sosial-ekonominya rata-rata sama aja), sekarang lebih beraneka ragam. Saya bahkan bertemu dan berbaur dengan anak-anak yang ternyata bertempat tinggal di rumah yang pintu-pintunya sudah menginspirasi saya dengan gelar yang panjang.... Anak Bapak/Ibu Dosen....kerennyaaaa.......
Saya minder karena beberapa hal:
1. Mereka kliatan banget berasal dari kaum berada, bersih, wangi, alat sekolahnya lengkap....mana jajannya Es Cup Cup (sewaktu saya harus cukup puas dengan es bungkusan)....duuhhhh....
2. Walau saya sewaktu SD selalu juara kelas, tetapi menghadapi anak-anak juara kelas dari SD favorit dengan tambahan les ini itu.... saya ketinggalan juga...
3. Saya anak pantai yang terkenal dengan keprimitipannya in the area of,....sorry, you don't want to know about this, but I ll let you know anyway... Kami nggak punya toilet. garis pantai yang membentang dan deburan ombak yang bergemuruh sudah cukup menjadi saksi bisu petualangan harian kami anak-anak pantai yang kalau punya cukup malu seperti saya, maka akan selalu merindukan datangnya malam..... (story ends. No more question!)
Dan sudah jelas tentunya bahwa hal ini menjadi bahan bisik-bisik tetangga. Saya berusaha cuek aja, seakan tak peduli.... toh tidak ada teman yang secara frontal berani menanyakan kepada saya: "Eh, kamu pup nya dimana?"
4. Bagian tersedih adalah ketika harus mengisi any form tentang biodata pendidikan orang tua, saya harus cukup berterima kasih bisa menuliskan SSRI ( Sekolah Seni Rupa Indonesia) untuk Bapak dan SMP untuk Emak. Kenapa saya berterimakasih? Karena saya akhirnya tau, kalau itu cuma kreativitas bercampur dengan khayalan Bapak dan Emak saja sewaktu pertama kali mengisi formulir pendaftaran masuk SD buat saya. Sebetulnya mereka berdua (Alhamdulillah) tamatan Sekolah Dasar....
Dalam hati, sebetulnya bertambah keras keinginan untuk bisa kuliah, sekarang motivasi jadi bertambah, selain biar kliatan keren, juga biar kelak anak-anak saya ga malu2 amat menuliskan tingkat pendidikan Mamanya (sumpah, waktu itu saya bertekat ga mau dipanggil Emak! Ndeso). Hehehe..... baru nyadar, ternyata di usia 12 an saya sudah memikirkan untuk punya anak...hahahahaha...
In Short, sejak masih imut-imut semangat sekolah saya sudah cukup tinggi, walau setingan motivasi masih acakadut, ya ora popo....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar