Minggu, 18 Oktober 2015

IBt TOEFL dan GRE

Kalau TOEFL mungkin bukan jenis test yang asing buat kebanyakan orang, namun GRE? Mungkin hanya sebagian kecil saja yang tau...
TOEFL (Test Of English as a Foreign Language) yang pernah saya ikuti ada 2 jenis; 1. ITP (paper based) dan yang ke-2  IBT ( saya bacanya " i be te... ii be te deeh... jangan ditiru ya) atau internet based TOEFL. Dari namanya saja sudah terbayang apa dan bagaimana kira-kira test ini berlangsung; kalau ITP masih paper and pencil, sedangkan IBT itu ujiannya di depan komputer. Dari materinya juga sedikit berbeda; bila di ITP sectionnya dibagi 3 yaitu listening, reading and grammar/structure (yang paling ga saya suka) sedangkan IBT dibagi menjadi 4 sections; Listening, Reading, Speaking (yang paling bikin nervous walo hanya ngomong sama komputer) dan Writing.
Pengalaman pertama saya mengikuti IBt TOEFL ya karena mengkuti proses seleksi beasiswa Fulbright ini. Sebagai candidate, baik principal maupun alternate sama-sama mendapat kesempatan untuk mengikuti tes ini. Biayanya ga murah, kalau sekarang mungkin sekitar 2,5jt an (kalau bukan karena Fulbright barangkali saya bakal mikir seribu kali buat ikutan, mengingat biayanya yang aduhai). Tempat yang melayani test ini juga tidak ada disetiap kota. Di ibukota Provinsi tempat saya berdomisili kebetulan juga tidak ada, jadi saya harus ke Jakarta (again, thanks God and thanks Fulbright for giving me this opportunity). Bukan hanya tiket, akomodasi dan biaya test gratis yang bikin hepi.... saya kok lebih exited with the idea that I will meet other candidates, new friends!
Setelah menerima hasil wawancara, saya dan 4 orang yang beruntung menjadi candidate menjalin persahabatan dan komunikasi via Blackberry Messenger. Sahabat baru saya ini berasal dari berbagai daerah yang kebetulan masih di Pulau Sumatera; Fannya dari Sumbar (sama ya Ani :), Vindi dari Bangka, Wirda dari Palembang dan Hellen dari Bengkulu (I swear, I miss you guys)
Kebetulan sekali jadwal test kami hampir berbarengan, walau Fannya dan Hellen lebih duluan untuk GRE nya, ga papalah... yang penting kita bisa ketemu in person in Jakarta. Oh ya, saat kami hendak test ini, sebagian Pulau Sumatera masih diselimuti kabut asap. Alhasil, Wirda yang sedianya bakal yang pertama mendarat di Jakarta, menjadi yang paling belakangan diantara kami bertiga karena pesawatnya delay. Selain karena takut nyasar, kami bertiga sengaja niat bareng menuju ke hotel yang jaraknya lumayan jauh dari bandara ( Hotel Alia Cikini Jakarta Pusat). Hitung-hitung menghemat ongkos taxi kaan?
Hari H pun tiba. It was Sunday October 11 2015. Kami menuju ke lokasi test di Jakarta Utara, tepatnya di Rukan Manyar Pantai Indah Kapuk (ini bukannya daerah kepala naga seperti yang dipromosikan Mbak Feni Rose di acara jual beli apartemen/rumah dan rukan di salah satu stasiun TV itu kan?) Semoga keberuntungan si kepala naga mengikuti kami (just kidding). Jarak yang lumayan jauh, buta lokasi, karena mendadak Rukan Manyar ini tidak terdeteksi sama mas Google Map, tidak membuat kami telat sampai di tempat. Berkat kesigapan Mbak Rini, salah satu candidate asal Jayapura (yang ternyata jauh lebih melek Kota Jakarta dibanding yang lain) telah berhasil mendapatkan mobil carteran yang lagi-lagi kami keroyok rame-rame. Tidak tanggung-tanggung, ada 8 orang dalam satu mobil. Tidak terbayang kayak sardennya, terlebih 5 orang diantara kami tergolong lumayan "Chubby"
Test IBt TOEFL yang dibagi 4 section berlangsung selama lebih kurang 4,5 jam....lama ya? Percayalah... itu tidak cukup lama! Kalau bisa minta tambahan waktu, pasti saya lakukan!
Seperti yang saya ceritakan di awal, speaking section lah yang bikin saya paling nervous. Ngomong di depan komputer, dimana peserta lain juga sedang asyik bicara, benar-benar mengganggu konsentrasi. Terlebih lagi saat mulai section ini saya sempat sangat buru- buru masuk ruangan di lantai 2. Perlu saya jelaskan, kalau sebelum speaking section itu ada jedah selama 10 menit (sebelumnya reading dan listening). Saya laper banget and at the same time  juga kebelet pipis. Waktu 10 menit ini sungguh tidak cukup untuk menuntaskan 2 kebutuhan ini. Salah saya juga, bawa roti untuk penghilang lapar, mungkin kalo jus buah atau susu coklat kotakan akan lebih praktis dan langsung srup, ga usah pake acara kunyah2 (perlu dicatat buat yang mau ikutan test). So, 10 menit berlalu tanpa terasa, roti habis tapi belum sempat pipis.... Mbak pengawas di lantai 2 sudah memanggil saya. Buru-buru naik lagi ke lantai 2, ngos-ngos an.... speaking section dimulai. Jleg.... pake acara blank dulu selama 2 detik.....(mana sambil nahan pipis)
Well.... sekarang saya sedang menunggu hasil test IBT TOEFL yang menurut si mbak di sana akan keluar dalam waktu 2 minggu. Deg-degan..... Semoga hasilnya memuaskan.... Amiiiiiin YRA.....
Next... GRE Test. Test jenis apa ini? Jangan ditanya, sampai sekarang itu masih menjadi mimpi buruk buat saya...hahahahha....
Tidak bermaksud menakut-nakuti..... Malah untuk warning agar test taker lebih hati-hati dalam mempersiapkan diri. Biar tidak menyesal seperti saya sekarang. Aseli! GRE itu SUSIT ( gabungan antara SUsah dan suLIT). As if I never learnt English before then they test me English! Sadis kan? GRE dibagi dalam 3 Sections, Analytical Writing, Verbal Reasoning and Quantitative Reasoning. Kata-kata yang muncul di section Verbal Reasoning benar-benar tingkat dewa. Ngapalinnya aja susahhh....hhhhhhhh...... Belum lagi Quantitative Reasoning-nya  (matematik Bow....). Setelah puluhan tahun ga begaul sama yang namanya matematika..... ampouuuun deeehhh....
Sekarang saya cuma bisa pasrah semoga nilai GRE saya yang memalukan untuk di share ini tidak menghalangi langkah saya untuk tahap seleksi selanjutnya, yaitu mendaftar ke universitas di Amerika. Kebetulan 3 dari 4 universitas yang hendak saya propose, tidak mensyaratkan GRE Score sebagai salah satu admission requirements  nya ( kalau saya sukses, mungkin bisa ditiru nih, buat mempertimbangkan masalah GRE sebagai salah satu poin dalam memilih universitas disana, hehehe )


6 komentar:

  1. Hi Mbak Ndaru,

    Salam kenal, saya Wayan Darya, pelamar Fulbright jg walaupun gagal hehe.
    Slmt y Mbak sdh sampai ke tahap ini. Bagaimana jadi ambil study nya di Eriksson Institute?

    BalasHapus
  2. Hello Wayan.... salam kenal juga. Terima kasih udah mampir ya...
    Alhamdulillah dijalani dengan penuh rasa syukur..
    Erikson institute sayangnya ga di approved sama IIE, tapi saya bersyukur juga karena setelah dilihat di daftar universitas LN yg diakui Dikti, Erikson Institute ga masuk dalam list. Semua ada hikmahnya...
    Coba lagi tahun ini Wayan, semoga sukses di 2016 ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya trmksh doa nya Mbk. Jadi ambil dmn Mbk? Kampus di daftar DIKTI berdasarkan ranking,makanya Eriksson Institute gk masuk walaupun prodi ECE nya top banget, sy udh lihat soalnya hehe

      Hapus
    2. Iya Wayan, sayang banget ndak masuk daftar kampus DIKTI
      Namun walaupun begitu tetap ada hikmahnya. Erikson tergolong kampus kecil, mahasiswanya hanya 300an orang, berarti bakal nambah networking paling banter separonya, sementara FUlbright mengharapkan perluasan jaringan alumninya.
      Sekarang lagi nunggu LOA dari 4 universitas yang disarankan IIE: University of Kentucky, Florida International University, Missouri State University and North Texas University.....
      Semoga pada berbaik hati kasi LOA...heheheh

      Hapus
    3. Iya Mbk, IIE pst lebih tahu dlm hal pemilihan kampus, jd kalau usulan ditolak bisa diterima
      Siipp semoga segera dpt LoA y Mbk :-)

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus